Halaman

    Social Items

Wahana Libido - Cerita Sex Gigolo, Nama saya adalah Anis. Usiaku sekarang 38 tahun dan berat badan 57 kg serta kulitku berwarna sedikit

hitam. Kini aku tinggal bersama seorang istri dengan 3 orang anak di salah sati ibu kota Kabupaten

Sulsel, yang masih bestatus kontrakan. Aku menikah dengan seorang gadis dari suku lain di sulsel th.

1990 atas dasar kemauan orangtua kami. Meskipun pernikahanku tidak didasari rasa cinta yang mendalam,

namun sebagai pria normal yang bernafsu tinggi, penyaluran sexku adalah utama, yang terbukti dengan

lahirnya 3 orang anak dari rahim istriku itu.


Awal cerita ini ketika aku mengirim cerita po*no yang tidak sepenuhnya benar ke salah satu situs cerita

po*no sekitar Bulan Juni tahun lalu. Dalam cerita itu, aku sengaja memaparkan kondisi kehidupan rumah

tanggaku yang kurang stabil, terutama dari segi keuangan. Aku paparkan bahwa kami tidak mempunyai apa-

apa kecuali hanya istri dan 3 orang anak serta modal ketahanan dalam melakukan hubungan seks. Malah aku

tawarkan diri kepada wanita siapa saja yang berminat untuk menyewa modalku itu dengan rupiah untuk

mencukupi kebutuhan hidupku bersama keluargaku, apalagi waktu itu aku memang sedikit terlilit hutang

pada orang lain. Slot Online Terpercaya

Dalam iklan po*no yang kukirim tersebut, aku muat juga syarat-syaratnya antara lain bebas usia dan

status (boleh yang bersuami asal dijamin aman), siap menyewa tempat/penginapan khusus, siap disetubuhi

dengan gaya dan posisi apa saja, siap membayar sejumlah uang jika ia betul-betul mengalami kepuasan

batin, siap mencukur rambut khasnya jika memang agak lebat. Sebaliknya aku berjanji untuk menjilati

seluruh tubuhnya dan menggauli sesuai kebutuhannya. Boleh saja menawar sebelum hari H-nya.


Pada mulanya aku tidak yakin iklanku itu akan mendapat tanggapan, apalagi biasanya si wanitalah yang

seharusnya disewa untuk itu. Namun rejekipun datang. Hanya berselang 4 hari setelah iklan po*no itu saya

umumkan melalui salah satu situs cerita po*no, eh ternyata ada responnya, malah 2 wanita lagi. Aku

betul-betul gembira dan bahagia sekaligus jadi tantangan buatku karena aku tidak terlalu yakin

sebelumnya dan belum punya persiapan untuk itu. Tapi aku berfikir bahwa sudah terlanjur basah, apa boleh

buat harus saya sambut dengan senang hati, apalagi modal sex yang kumiliki tidak kurang sedikitpun.

Hanya saja tidak berlebihan sesuai yang mungkin dibayangkan oleh para pembacanya.


Respon email yang pertama kali kuterima berinisial Tia_.. @yahoo.com dan saat itu pula saya baca dan

membalasnya. Isi emailnya singkat sekali. Ia hanya menulis kalau dirinya tertarik dengan tawaranku dan

ingin menyewa dan membelinya sekaligus serta ia minta aku menjawab dan menerangkan ciri-ciri

kepribadianku jika aku betul-betul serius. Sedang ia sendiri tidak menyebutkan apa-apa soal dirinya

kecuali alamat email. Besok malamnya saya buka kembali emailku, ternyata berisi dengan nama Tia lagi.


Kali ini, sudah agak panjang. Setelah saya baca, aku tahu kalau dia tinggal dalam kotaku, meskipun ia

menolak untuk memberitahu alamat rumah dan nomor telponnya. Tapi ia menulis kalau dia adalah Kepala

bidang tata usaha di salah satu instansi swasta. Usianya sudah kepala 5 tapi gairah sexnya masih agak

tinggi. Suaminya agak lebih tua sedikit dari dirinya tapi super sibuk dengan pekerjaannya di luar rumah

selaku wiraswastawan, sehingga hubungannya di atas ranjang tidak rutin dan tidak teratur sesuai yang ia

inginkan.


Setelah yakain kalau ia betul-betul serius, akupun lalu membalas saat itu pula dan mengutarakan kembali

keadaan ekonomi rumah tanggaku yang sebenarnya dan juga sedikit hubunganku dengan istri di atas ranjang.

Malah aku minta agar mengirim photo dan no. HP-nya serta menyebutkan tempat pertemuannya nanti. Sayapun

minta agar ia bersumpah dan berjanji untuk menerima akibatnya jika ia hanya mempermainkanku, sebagaimana

pula saya siap lakukan (menulis sumpah). Besok malamnya saya kembali buka emailku dan ternyata nama Tia

kembali muncul. Setelah saya buka isinya, ternyata Tia sudah melakukan persiapan akhir. Ia menyebutkan

penginapan tempat kami ketemu nanti, warna pakaian yang dikenakannya serta hari H-nya. Tinggal menunggu

persetujuanku lewat email saja.


Entah pengaruh dari mana sehingga aku mulai sedikit gemetar bercampur bahagia, ragu, takut, bimbang dan

bersemangat silih berganti sejak saya menerima putusan terakhirnya itu. Bahkan mataku yang tadinya mudah

sekali tertidur, tiba-tiba rasa ngantukku sulit sekali dan gairahku untuk cepat-cepat bobo bersama istri

semakin menurun. Mungkin karena peristiwa yang kami hadapi betul-betul istimewa dan luar biasa

bersejarah atau karena takut dan malu kalau-kalau kami kepergok nanti oleh teman atau kenalan lainnya,

apalagi suami Tia atau keluarganya ataupun karena takut dipermainkan.


Yang jelas kenyataan itulah yang saya rasakan saat itu. Sedang mengenai gairah sexku terhadap istri

memang sengaja kukurangi sebagai persiapan untuk bertarung dengan wanita yang belum kukenal nama, wajah

dan gambarannya sama sekali. Bahkan kemampuannya di atas ranjang bisa-bisa saya KO jika kurang

persiapan, sehingga dapat mengecewakan kami berdua seumur hidup.


Hari itu hari Sabtu sesuai jadwal yang ia tetapkan, saya bangun cepat sekali yakni sekitar jam 5.00

subuh padahal mataku larut malam baru tertidur. Paling lambat Jam 7.30 pagi, saya sudah harus menunggu

di penginapan yang dimaksud karena jadwalnya jam 8.00 pagi, tapi saya tidak mau ia perhatikan lebih

dahulu. Karena itu, istriku masih dalam keadaan tidur nyenyak, aku sudah selesai mandi lalu berpakaian

yang sedikit rapi dan menyemprotkan farfum. Waktu itu saya mengenakan baju kaos warna ungu dengan celana

panjang warna hitam lalu memasukkan ke dalam tas pakaianku 1 pasang pakaian lagi sebagai persiapan

bermalam. Belum saya selesai menutup tasku, istriku tiba-tiba menegur.


“Kok cepat sekali persiapan berangkatnya pa’, tidak seperti biasanya?” katanya terheran, sebab malamnya

aku memang sudah buat alasan kalau aku mau ketemu orang tua yang tinggal di suatu desa yang agak jauh

dari kotaku. Biasanya jam 8.00 pagi baru ada mobil berangkat ke sana.

“Kebetulan ma’ saya mau singgah dulu di rumah teman karena katanya ia juga mau ikut jalan-jalan ke

kampung, siapa tahu terlambat ke sana, khan bisa ketinggalan mobil” alasanku berbohong tapi masuk akal.


Iklan Sponsor :


Jam 7.00 pagi itu, saya naik becak berangkat ke penginapan tersebut dengan jantung berdebar bercampur

takut dan gembira. Jam 7.25 saya sudah masuk ke penginapan itu. Sebelum masuk, saya lihat-lihat dulu

kiri kanan kalau-kalau ada wanita agak gemuk mengenakan baju warna abu-abu dengan celana warna biru

sesuai informasinya lewat email. Saya sendiri sengaja tidak menyampaikan ciri-ciri pakaian yang

kukenakan biar sama-sama sibuk dan bingung mencarinya.


Beberapa wanita yang lalu lalang keluar masuk penginapan itu, bahkan banyak yang berdiri di depan

costumer servicenya, tapi belum satupun wanita yang kulihat sesuai ciri-ciri yang telah disampaikannya.

Aku mau tanya petugas penginapan, tapi aku tidak tahu nama yang akan kutanyakan dan saya juga semakin

ragu jangan-jangan ia permainkan aku. Akhirnya saya beranikan diri saja bertanya ke salah satu

petugasnya kalau-kalau ada tadi wanita yang agak gemuk dengan warna pakaian tersebut telah terdaftar

sebagai tamu, namun jawabnya belum ada.


Saya mencoba mengamati semua wanita yang ada dalam ruang tamu, ternyata ada satu orang yang seolah

memperhatikanku dari tadi sambil sedikit tersenyum. Tapi aku tidak yakin kalau wanita itu yang kucari,

karena bentuk tubuh, rambut, warna baju dan celananya serta kulitnya tidak ada yang sesuai informasinya.

Aku semakin meragukan keseriusannya, apalagi jam dinding yang ada di ruang penginapan itu sudah

menunjukkan pukul 8.05 pm. Dalam hatiku kalau sampai lewat 30 menit lagi ia belum juga muncul, aku akan

pergi saja meninggalkan penginapan itu dan langsung pulang kampung sesuai janjiku pada istri di rumah.


“De’ cari siapa? sejak tadi saya perhatikan, nampaknya ada yang dicari dan ditunggu yach?” kata seorang

wanita yang sejak tadi memperhatikanku

“Oh, iya bu’, ada keluarga yang saya cari, katanya ia mau nginap di sini dan jam 8.00 ia sudah tiba di

tempat ini, tapi kok sudah lewat jadwal, ia belum juga muncul,” alasanku mengaku sebagai keluarga.

“Mungkin ada halangannya de’ diperjalanan” ucapannya singkat.

“Yah mungkin juga atau ia sengaja membohongiku untuk menguji sejauh mana perhatianku padanya” kataku

membenarkan.

“Tapi, kok ade’ ini nampaknya serius dan penting sekali seolah lama sekali tidak jumpa, emangnya ia dari

mana de’?” tanya wanita itu seolah ingin tahu lebih banyak dan nampak penuh perhatian padaku.

“Iya betul, ia baru pulang dari luar Sulawesi dan belum kukenal betul wajahnya, tapi informasinya

melalui telpon katanya ia datang sekitar jam 8.00 pagi di penginapan ini dengan perawakan agak gemuk,

pakaian berwarna abu-abu-hitam serta rambut panjang,” jelasku menyinggung tanda-tanda yang diberikan

oleh wanita yang kutunggu itu.

“Oh yah, ibu ini petugas atau tamu penginapan ini?” tanya aku serius.

“Sama dengan ade’, aku juga menunggu seseorang yang sama sekali belum kukenal nama, alamat, bodi dan

wajahnya,” jawabnya sedikit tertawa.

“Jangan-jangan ibu..” tanyaku namun mendadak putus, sebab ia juga tiba-tiba melontarkan kata-kata persis

yang kuucapkan (serentak).

“Ha.. Ha.. Ha.., hi.. Hi.. Hi” kami ketawa bersama-sama sambil saling menunjuk karena kami saling yakin

kalau apa yang kami cari ternyata sudah dari tadi ketemu, namun berbeda dengan tanda-tandanya.


Setelah kami puas tertawa, bahkan saling menunjuk, akhirnya kami sama-sama terdiam sejenak lalu

tersenyum sambil saling menatap dengan tatapan yang tajam sekali dan agak lama. Dalam hatiku ternyata

wanita ini kelihatannya masih muda, cantik dan jauh beda apa yang kubayangkan. Setelah puas saling

tatap, saya tawarkan untuk memesan kamar secepatnya biar nanti dalam kamar baru cerita dan saling tatap

sepuasnya.


“Ayo, iku aku ke sini” katanya tiba-tiba sambil menarik tanganku dan membawaku naik ke atas terus masuk

ke salah satu kamar yang terletak di sudut penginapan itu.


Aku ikut saja tanpa kata-kata dan tanpa pikir panjang. Setelah kami berada dalam kamar, ia terus menutup

pintunya lalu duduk di tepi sebuah rosban yang agak kecil dan sederhana, bahkan kasurnya biasa-biasa

saja, lagi pula cuma satu tempat tidur. Dalam hati kecilku mungkin dari tadi ia sudah pesan khusus

ruangan ini dan ia nampaknya sudah tahu keadaan penginapan ini.


“Ayo, dekat sini donk, jangan malu-malu, kita khan sudah sepakat dan sama-sama tahu apa tujuan kita ke

sini, lagi pula tidak ada orang lain yang memperhatikan dan melarang kita berbuat apa saja dalam kamar

ini, karena kita sudah carter, sudah halal.. Ha.. Ha.. Ha” katanya sambil ketawa, karena aku masih

berdiri mengamati gambar-gambar yang tertempel dalam kamar itu.Cerpen Sex


Tanpa sepata katapun, aku ikut bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Terus duduk persis di sampingnya

lalu saling menatap lagi sambil tersenyum, tapi tiba-tiba tangannya merangkul di leherku dan memelukku

erat sekali dan mencium pipiku sejenak, lalu ia mundur ke tembok bersandar dengan kaki melonjong persis

menyentuh pantatku.


“Bu’, .. Betul.. ” belum saya selesai bicara, ia langsung memotong,

“Aduuh, mulai saat ini saya mohon jangan lagi dipanggil ibu, panggil saja nama emailku ‘Tia’ oke?”

katanya tegas.

“Okelah, bila itu permintaannya, tapi saya tadi mau bilang bahwa impian kita ini betul-betul bisa jadi

kenyataan, padahal sebelumnya saya tak pernah yakin ada wanita yang mau mengubris iklanku.. Hi.. Hi,”

kataku sambil ketawa dan gelengkan kepala.


“Kita liat aja nantilah, apa betul bisa kita buktikan sesuai komitmen kita semula atau hanya sekedar

impian belaka, tapi yang penting kita ketemu dan saya cukup senang dan bahagia, sekalipun kau tidak

mampu mewujudkan janjimu semula, aku tetap siap membayar sewanya sesuai tawaranmu di internet. Oh yah,

saya panggil apa anda sekarang?” katanya serius dan seolah ingin membesarkan semangatku.


“Terima kasih atas pengertiannya Bu’ eh.. Tia. Panggil saja aku Anis”.

“Oh yah, perlu nggak kita masuk kamar mandi lebih dahulu atau langsung aja ke inti permasalahannya,”

tanya tia sambil turun dari rosban.

“Saya rasa tidak perlu, kita khan baru saja mandi di rumah, lagi pula parfum yang telah kita semprotkan

ke tubuh kita dan diniatkan, nanti menghilang ha.. Ha,” jawabku sambil ketawa.

“Okelah kalau begitu, tapi bagaimana cara masuk ke inti permainan? Apa saya yang aktif atau anda atau

sama-sama aja?” tanya Tia serius.

“Gantian atau bersamaan tidak ada masalah, yang penting kita coba saja, dan nanti dengan sendirinya akan

dapat disesuaikan” kata saya sambil turun dari tempat tidur dan berdiri berhadap-hadapan.


Mula-mula Tia melangkah 1 langkah ke depan sehingga bersentuhan antara ujung kakinya dengan ujung

kakiku, lalu merangkulkan kedua tangannya ke leherku, lalu merapatkan badannya ke badanku, lalu mencium

pipi, bibir dan leherku, sementara aku terdiam sejenak lalu memeluk pinggulnya dan menyambut bibirnya

dengan bibirku, sehingga kami saling berpagutan dan saling merangkul erat hingga puas.


Setelah kami saling merangkul dan menjilati apa yang nikmat dijilat pada tubuh kami masing-masing, Tia

lalu mengangkat baju kaos yang kupakai dan melepaskannya lewat kepalaku, lalu menjilati seluruh bagian

tubuhku yang terbuka, mulai dari dahi sampai ke pusar. Bahkan ia terus melepaskan ikat pinggangku dan

menurunkan retsletingku, lalu melorotkan celana panjangku hingga hanya celana color yang melekat di

tubuhku. Saya masih terus diam menikmati apa yang diperbuat Tia padaku, meskipun tanganku tetap bergerak

mengelus rambut dan telinga Tia. Tia nampaknya sangat pengalaman dalam hal merangsang laki-laki,

sehingga nampak tidak kebingungan menghadapiku.


“Nis, maaf yah, untuk yang satu ini saya tidak berani tanpa malu. Boleh nggak saya lepasin juga biar aku

lebih leluasa menjamah seluruhnya,” katanya sambil menengadah ke atas melihat wajahku karena ia dalam

keadaan jongkok.


Saya hanya mengangguk tanpa bersuara. Lalu ia tarik ke bawah pelan-pelan dengan giginya sehingga nafas

bahkan bibirnya terasa menyapu penisku yang sejak tadi menegang hingga ke ujung kakiku bahkan seolah ia

sengaja menjilatinya. Saat celana dalamku terlepas, ia terus menarikku duduk ke pinggir tempat tidur,

lalu menarik kedua kakiku sambil membungkuk lalu menjilati jari-jarinya hingga terasa sedikit basah,

geli bercampur nikmat. Aku betul-betul seolah seperti patung dan dipermainkan seenaknya, tapi dalam

hatiku biarlah ia aktif duluan nanti sebentar giliranku setelah ia kecapean.Cerpen Sex


“Ahh.. Uhh.. Hhmm.. Ssstt.. ” lenguhku kegelian dan keenakan ketika lidahnya menyapu pokok pahaku.

Pipinya terasa lengket ke tongkatku yang mulai berdenyut.


Hangat sekali rasanya, apalagi nampaknya Tia sengaja menggerak-gerakkan pipinya agar aku bisa

menikmatinya.


“Anis, enak nggak dijilatin buah pelernya? Tunggu saya jilatin batangnya, tenang saja, aku pasti

memuaskanmu sebelum kamu berperan aktif” katanya sambil melihat wajahku.

“Iyah.. Yah Tia, eenak sekali sayang, tapi jangan lama-lama di situ yach, aku sedikit geli, pindah-

pindah donk, biar kunikmati semua permainan lidahmu” kataku merayu agar ia tidak berhenti.


Aku tak berdaya menolak perlakuan Tia, ia tiba-tiba berdiri dan mendorongku ke belakang sehingga aku

terbaring di atas tempat tidur dengan kaki tergantung ke bawah. Tia lalu memegang tongkatku dan

menggocok-gocoknya sehingga terasa tambah besar dan keras serta berdenyut-denyut. Tia tak menggerakkan

tangannya sejenak mungkin karena ia ingin menikmati denyutan batangku.


Setelah itu, Tia membungkuk lalu perlahan ia arahkan tongkatku ke dalam mulutnya lalu dimaju mundurkan

mulutnya sehingga pinggulku bergerak ke kiri dan ke kanan sebagai tanda nikmatnya gerakan mulut dan

lidah Tia yang berputar-purat di antara selangkanganku. Aku hampir-hampir tidak mampu lagi menahan

gejolak cairan yang terasa mulai memaksa mengalir melalui batang kemaluanku. Demikian hebatnya cara

memainkan lidah dan mulut Tia terhadap penisku, sehingga saya sering tidak bisa membedakan lubang vagina

yang pernah dimasuki penisku yang ukurannya normal itu.


“Ti.. Tia, gantian yach, rasanya jika aku diam terus bisa-bisa aku kalah KO ini. Aku yang harus bereaksi

lagi dan Tia harus menerima serangan fajarku, masa saya terus yang diserang” pintaku pada Tia setelah

aku mulai merasa mau KO ia perlakukan seperti itu.


Dalam hatiku, jika aku melayani terus permainan Tia, aku bisa malu dan ia merasa dikecewakan dari

perkataanku dalam email kalau aku bermodalkan ketahanan sex. Karena itu aku harus pakai akal dan tidak

boleh terlalu serius menuruti aliran nafsuku. Setelah aku berdiri dalam keadaan telanjang bulat,

sementara Tia berdiri di depanku masih berpakaian lengkap, aku lalu membuka kancing baju Tia satu

persatu hingga nampak BHnya yang berwarna putih dan tidak kutahu ukurannya tapi tampaknya sedang-sedang

saja.


Aku tidak bermain-main lagi dengan BHnya, melainkan aku langsung saja membuka kaitnya dari belakang

sehingga aku sempat memeluk dan mencium bibirnya sejenak. Setelah lepas, aku langsung memainkan mulut

dan lidahku pada puting susunya yang sedikit padat dan empuk serta terasa agak hangat. Mungkin karena

sejak tadi Tia juga teramgsang, sehingga belum lama aku pegang dan isap putingnya, ada terasa manis

keluar dari dalamnya. Putingnya indah sekali, warna agak merah kecoklatan tertancap di kedua buah kembar

yang putih bersih. Ingin rasanya kutelan semuanya seperti kue Fawa dan seperti bola karet yang digigit

sedikit melenting.


“Nis, silahkan aja beraksi sesuai keinginanmu, aku siap terima semuanya,” katanya terus terang.


Setelah puas memainkan mulutku di bukit kembarnya itu, lalu kujilati seluruh tubuhnya hingga ke pusar,

lalu kubuka kait dan restelin celananya hingga terlepas dari tubuhnya. Tinggallah saat ini celana dalam

tipisnya yang berwarna kuning dengan pinggiran yang berbunga-bunga. Aku berlutut mencium dan menjilat

sejenak kedua bibir vaginanya dalam keadaan terbungkus. Tapi rasanya sudah basah dan terasa bau khasnya.

Mungkin air mazi alias pelicinnya yang keluar sejak tadi. Aku langsung buka saja hingga ia betul-betul

telanjang bulat. Setelah kelihatan semua, nampak bulu-bulunya yang baru dicukur sesuai saranku lewat

email. Tapi justru duri-durinya yang agak kasar itu membuatku semakin terangsang. Tanpa persetujuannya,

aku langsung dorong tubuhnya ke belakang hingga ia duduk di tepi rosban. Ia mengerti keinginanku.


Tanpa aba-aba, kedua pahanya sedikit terbuka sehingga kelentitnya yang sedikit hitam tapi masih indah

dan keras serta sedikit mengkilap karena basah itu jelas kelihatan. Bersamaan itu pula ia rebahkan

tubuhnya ke kasur dengan kaki terjulang ke bawah. Aku semakin leluasa menjamahnya. Aku menindih tubuhnya

yang telanjang, mencium bibir, mulut dan kedua bibir vagina serta kelentitnya, sehingga ia berdesis-

desis.


“Nis, aku sudah nggak tahan nih, percepat dikit mainnya, biar cepat selesai ronde pertama, khan masih

ada ronde berikutnya, jika perlu kita bermalam di sini aja,” Bisiknya ketika dengan lincah memainkan

lidahku ke dalam lubang vaginanya. Ketika kugigit sedikit kelentitnya, ia bergoyang seperti goyangan

dangdutnya Inul Daratista sewaktu di panggung.


“Tenang aja sayang, aku pasti memuaskanmu sesuai janjiku. Jika tidak, kamu pasti tidak mau lagi

berhubungan sex denganku yah khan?” kataku sambil diam sejenak dan tetap menindih tubuhnya.


“Ayo Nis, masukin cepat penismu itu, aku dari tadi merindukan gerakannya dalam vaginaku.. Hhmm.. Auhh..

Sstt,” pintanya sambil melenguh dan mengangkat pinggulnya sampai menyentuh ujung penisku.


Tanpa kuarahkan dan kubuka kedua bibir vaginanya, ujung penisku sudah menancap ke lubang vaginanya yang

basah, sehingga desahan nafasnya sulit ia sembunyikan. Penisku masuk ke lubangnya secara perlahan tanpa

aku menekannya. Sedikit demi sedikit bergerak masuk hingga hampir amblas semuanya. Itu terjadi karena

Tia mengangkat tinggi-tinggi sambil menggoyang pantatnya ke kiri dan ke kanan, apalagi ia melingkarkan

kedua kakinya ke pinggangku.


Karena aku sendiri sudah tidak tahan berlama-lama, maka secara otomatis pula aku menekan agak keras

sehingga batangku amblas seluruhnya dan terdengar suara aneh ‘decik.. Decakk.. Decukk..’ silih berganti

dengan suara nafas kami yang terputus putus.


“Uhh.. Aahh.. Hhmm.. Auhh.. Aihh.. Ssstt.. Eee.. Naakk sekali sayang, gocok teruss..” suara Tia

terdengar ketika kupercepat gerakan maju mundurku.


Rasanya mulai ada kembali desakan cairan hangat dari dalam, namun saya tidak tahu apa hal seperti itu

juga dirasakan oleh Tia. Tapi yang jelas tangan Tia selalu bergerak menarik rambut dan pinggangku seolah

ia tidak mampu lagi menunggu puncak permainan kami. Untung saja cairanku tertahan karena Tia tiba-tiba

menarik tubuhku naik ke ranjang lalu memutar badannya sehingga aku terpaksa tinggal di bawahnya. Dengan

gesitnya berputar tanpa melepas ujung penisku dari vaginanya, ia lalu jongkok dan menghentak pantatnya

naik turun. Penisku sedikit perih dijepitnya namun nikmatnya lebih besar. Ketika ia memutar pinggulnya

seperti joget ngebornya Inul, aku semakin sulit pertahankan lagi modal sex yang kujanjikan. Kami sama-

sama basah kuyub akibat keringat.Cerpen Sex


Bukit kembar Tia bergerak indah sekali ketika ia terengah-engah bagai orang naik kuda lumping.

Gerakannya cepat sekali, lalu tiba-tiba ia balikkan tubuhnya sampai aku kembali di atas mengangkanginya

tanpa melepaskan sedikitpun penisku dari vaginanya. Aku berusaha menyelesaikan permainan dalam posisi

ini. Kupercepat gerakanku dan kuangkat kedua kakinya bersandar ke bahuku lalu kukocok terus vaginanya

hingga ia berteriak sedikit histeris. Bersamaan dengan itu pula aku merasakan cairan hangat yang sejak

tadi mau keluar sudah berada dekat ujung penisku.


Tiapun terasa agak gemetaran dan merangkulku dengan keras dan sempat menggigit leherku. Aku tahu kalau

ia sudah dipuncak orgasme. Aku berusaha menumpahkan spermaku secara bersamaan dalam rahimnya, sebab

kutahu persis wanita yang mau mencapai orgasme. Ternyata betul, aku berhasil dan aku tidak takut akan

akibatnya karena Tia punya suami dan tidak bakal timbul kecurigaan jika ia hamil lagi setelah beberapa

kali melahirkan.


Tanpa sepata katapun, kami saling menatap dan tersenyum, lalu tergeletak di kasur dengan telanjang

bulat. Kami tidur pulas sekali. Mungkin karena capek dan puas, apalagi beberapa malam sebelumnya aku

kurang tidur. Kami terbangun ketika jam 5.00 tanpa ada rasa lapar padahal kami main sejak jam 9.00

sampai jam 12.00 tadi. Kami hanya pesan makanan melalui petugas penginapan sebab kami takut keluar kamar

nantia ada yang kenal kami.Cerpen Sex


Kami sepakat bermalam saja, lagi pula suami Tia lagi keluar kota mengurus bisnisnya dan anak-anaknya

tinggal bersama pembantu di rumah dengan alasan ia mau tugas keluar kota bersama dengan pimpinan kantor.

Usai mandi, kami lalu menyantap makanan yang telah kami pesan sebelum mandi. Usai makan, kami kembali

bertarung dengan posisi dan model sex macam-macam sesuai pengalaman kami masing-masing hingga larut

malam lalu kami tertidur dan bangun lagi melanjutkan dengan sisa-sisa modal kekuatan yang masih kami

miliki masing-masing. Slot Online Terpercaya


Pembaca yang budiman, tidak sempat kuceritakan secara rinci posisi dan model sex yang kami terapkan

sepanjang malam itu, malah sewaktu di kamar mandi, karena rasanya cerita ini sudah terlalu panjang. Aku

berusaha lanjutkan lain waktu, termasuk wanita kedua yang juga berminat menyewa modalku. Bahkan

ceritanya lebih seru lagi, karena usianya di atas 60 tahun dan vaginanya tidak berbulu sama sekali. Aku

tidak perlu cerita berapa sewa yang kuterima, tapi yang jelas lebih dari yang kuperkirakan, bahkan aku

justru ketagihan, sehingga tanpa dibayarpun rasanya aku rela dan memang beberapa kali kami lakukan tanpa

minta sewa modal..

Cerita Sex Gigolo

Wahana Libido - Cerita Sex Klitoris Calon Pengantin, Tetangga belakang rumahku mau menikahkan anak gadisnya, namanya santi, umurnya 21 tahun. Karena rumah Pak Julius sempit dan di dalam gang sempit pula, maka Pak Julius meminjam rumahku yang tepat berada di depan rumahnya untuk dijadikan tempat resepsi, sekaligus kamarku di lantai dua dijadikan kamar pengantin. Sedang rumah Pak Julius sendiri dijadikan dapur untuk memasak. Aku sih tidak keberatan, karena Pak Julius sudah seperti saudara buatku, lagian aku pikir menolong orang akan mendatangkan rejeki. Eh ternyata benar aku dapat rejeki nomplok.


Tiga hari sebelum pernikahan, rumahku sudah ditata, kamar pengantin juga sudah dipersiapkan. Dan Santi juga sudah diluluri sekujur tubuhnya, biar bersih dan harum. Wajah santi imut, tubuhnya padat berisi alias montok, payudaranya sich tidak terlalu gedhe tapi kencang. Anaknya juga manja, maklum anak terakhir. Sebenarnya pernikahan itu bukan maunya Santi, dia dipaksa sama orang tuanya untuk nikah sama Pak Jeremy yang usianya sudah 45 tahun. Karena Pak Julius punya utang sama Jeremy, akhirnya disepakati hutang pak Julius dihapus dan sebagai gantinya pak Jeremy kawin sama Santi.


Sehari sebelum pernikahan suasana rumahku dan rumah pak Julius makin sibuk, saudara pak Julius dan para tetangga sudah berdatangan, membantu memasak dan mempersiapkan keperluan pernikahan. Santi sendiri sudah mulai tidur di kamar pengantin. Sore itu aku diminta sama Pak Julius untuk menasehati Santi, agar dia mau dinikahkan sama Jeremy, pak Julius khawatir Santi akan bertindak nekat. Aku sanggupi saja permintaan itu, toh Santi sama aku sudah sangat akrab, dia menganggap aku pamannya sendiri. Tapi karena kesibukan, permintaan pak Julius itu baru bisa aku lakukan malam hari, sekitar jam 9 malam. Suasana rumahku sudah sepi, hanya rumah pak Julius yang masih terdengar ada kesibukan. Aku ajak istritku menemui Santi di kamar pengantin, tapi istriku menolak dengan alasan capek dan mau tidur.


Akhirnya aku naik sendiri ke lantai 2 , ke kamar pengantin. Dari bawah aku dengar kecipak suara air, mungkin Santi lagi mandi, pikirku. Aku ketuk pintunya, tak lama kemudian Santi membukakan pintu kamar dengan berlilitkan handuk. Mataku melotot seperti mau copot melihat tubuh Santi, kulitnya yang kuning langsat semakin berkilat. Kupandangi Santi sejenak, melihat leher dan belahan dadanya yang sedikit menyembul, terus pandanganku turun memerhatikan pahanya yg licin mulus. Kontiku yang masih tersimpan dicelana tiba-tiba bergerak, semakin lama kupandang paha Santi, semakin tegak penisku. Pikiran ngeres segera muncul, enak kali ngentot tubuh anak gadis yang masih ranum ini. Slot Online Terpercaya


“Ehhh om Bernard, masuk om, maaf Santi baru selesai bilas abis luluran,” katanya.

Lamunanku buyar mendengar suara Santi. Dengan sedikit jaim aku masuk sambil mengunci pintu kamar, takut ada orang lain yang menguping pembicaraaan. Aku duduk di kursi kecil dekat ranjang pengantin. Santi duduk di tepi ranjang, masih hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit di tubuhnya.


“Ada apa om, kok tiba-tiba kemari?” tanyanya polos. Tidak ada nada keberatan dalam omongannya itu.


Aku jelaskan aja maksud kedatanganku, kalo aku disuruh sama bapaknya untuk menasehati dia supaya mau menikah dengan Jeremy. Aku bilang sebagai anak dia harus bisa membalas budi baik orang tuanya.


Setelah kusampaikan semua nasehat yang bisa aku sampaikan, Santi hanya diam saja dengan muka menunduk. Kulihat ia mulai menangis. Dengan maksud menenangkan hatinya, aku pindah tempat dudukku di tepi ranjang, di samping Santi. Aku rangkul dia, dan aku bilang, “Jangan sedih begitu, terima saja, toh ini semua sudah digariskan sama yang di Atas,” kataku menghibur.


“Santi tidak mau om, Santi ga mau nikah sama orang tua yang sudah punya anak itu,” katanya terisak-isak.


Aku rengkuh tubuh Santi supaya merapat ke tubuhku. Kupeluk ia lebih rapat, kepalanya menempel di dadaku. Kucium bau harum lulur dan shampo. Kontiku yang tadi sudah tidur bangun lagi.


“Om, Santi ga mau menyerahkan tubuh Santi yang masih perawan ini ke lelaki tua lintah darat itu om, tolong Santi om,” katanya menghiba.

“Apa yang bisa om lakukan, Santi?” tanyaku tidak mengerti maksudnya.


Iklan Sponsor :


Tiba-tiba kepala Santi menengadah, dan bibirnya mengecup bibirku. Aku tidak berreaksi. Akal sehatku masih bisa berjalan, aku tidak mau ada skandal di malam perkawinan. Tapi Santi sudah semakin nekat. Kecupan bibirnya di bibirku sekarang semakin liar, dia lumat bibirku dan tanngannya melepas handuk yang melilit tubuhnya. Kemudian tangan yang satu dia letakkan di kepalaku, membuatku tidak bisa lepas dari ciuman panasnya. Mendapat serangan mendadak seperti itu, pertahanan akal sehatku mulai goyah. Kubalas juga ciumannya.


Kami saling pagut, saling menghisap lidah dan minum air ludah masing-masing. Kurasakan ludah Santi bercampur pasta gigi. Aku sudah ga bisa lagi mengontrol akal sehat, langsung tanganku bergerilya meremasi dua bukit kembarnya yang kencang, padat dan berisi, pentilnya sudah tegak, tanda dia sudah horny. Santi mendesah kenikmatan saat jariku bermain di dua bukit kembarnya, dan memilin-milin putingnya.


“akhhhhhhhh ooommmm bantu Sannnntttiii iooooooommm” desahnya.


Mendengar desahan itu nafsuku langsung on, aku ga peduli lagi pada amanat pak Julius atau kesetiaan istriku. Kepalaku langsung nyosor ke payudaranya yang tegak menantang. Kuisep-isep bergantian payu dara yang montok itu, kugigit-gigit lembut putingnya yang sudah mengeras. Desahan Santi makin menggelora merasakan permainan mulutku. Tangannya kini sibuk memereteli bajuku, lalu dilepasnya celanaku, reflek aku berdiri supaya dia mudah melepas seluruh celanaku. Pertama celana pendekkku dilepasnya, kemudian celana dalamku. Kami sudah bugil tanpa sehelai benang menempel di tubuh. Kontolku yang sudah tegang dielus lembut oleh Santi. Tapi elusan itu sering berubah menjadi tekanan saat Santi merasakan geli-geli nikmat waktu pentilnya aku isep dengan mulutku.


Kurebahkan Santi di tempat tidur, pantatnya tepat di pinggir ranjang, kutekuk kakinya ke atas, dan terpampang jembut yang rapi karena habis dicukur dan tempik yang masih rapat tapi sudah basah. Aku langsung jongkok, kepalaku tepat di muka memeknya. Aku cium bau lendir khas perempuan. Kumainkan memeknya dengan jari-jariku, kupilin klitorisnya. Santi makin menggila, desahannya berubah menjadi erangan….


”Ohhhhh ommmmm aku mau dientottt saaamma ommmm ga mau dientot ama orang tua jelekkkk itu….. puasin sanntiii ooooommmmm.”


Aku jilati memeknya yang harum itu, lidahku naik turun di sepanjang memeknya. Sesekali lidahku menusuk ke dalam memeknya. Sesekali aku isap clitnya. Terus berganti-ganti aku nikmati memek Santi yang perawan itu. Kujilat-jilat lagi clitnya, sedang jari telunjukku memainkan memek bagian bawah. Santi semakin kelenjotan, tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan tak beraturan. Kutusukkan lidahku ke dalam memeknya, kuisap lendir kewanitaannya yang segar sruuuuuppppppp. Dan Santi memekik tertahan,


“oooooooommmmmmmm Sannnnnntttttttttttttttttti keeeeeeeeeeeluuuuarrr,” dan pahanya menekan kepalaku, satu kakinya menekan kepalaku agar tidak lepas dari memeknya.


Kubiarkan lidahku tetap di dalam memeknya sampai orgasme Santi selesai. Sambil kujilat habis cairan memek Santi.


Setelah jepitan paha dan dorongan telapak kakinya mengendur, aku mulai bisa bernafas lega. Aku berdiri dan merebahkan tubuhku di samping Santi.


“ouhhhh enak sekali ommmm, makasih ya….” kata Santi sambil mencium keningku.


Saat itu aku merasa bersyukur karena dapat memuaskan Santi tanpa harus membobol keperawanannya. Tapi rupanya Santi belum puas. Dia balikkan tubuhnya, dan sekarang tubuhnya menindih tubuhku. Santi maunya ****** om masuk ke memek


Santi, Santi mau pejuh om di memek Santi.” Katanya sambil menciumi dadaku.


Iklan Sponsor :


Aku kaget mendengar kata-kata jorok yang keluar dari mulut Santi, dan aku tak habis pikir kenapa Santi senekat itu. Tanpa mempedulikan keherananku, ciuman Santi terus melorot sampai ke kontolku yang masih tegang. Precum yang ada diujung ****** diusap pakai lidahnya. Ada rasa geli dikontolku. Dan seperti anak kecil yang dikasih permen, Santi langsung mengemut kontolku. Dimasukkannya kontolku ke dalam mulutnya, lalu dikeluarkan lagi, dimasukan lagi begitu seterusnya. Tangannya meremas-remas lembut biji kontolku. Oughhhhhhh luar biasa. Aku tidak tau darimana Santi belajar nyepong seenak itu. Aku Cuma bisa merem melek keenakan, dan tanganku menjambak rambutnya.


Karena sudah ga tahan, aku tarik Santi ke atas, dan kubalik tubuhnya, dia sekarang menengadah, dan tubuhku menindih tubuhnya yang ramping itu. Tangan Santi menuntun kontolku masuk dalam liang kenikmatannya. Karena masih perawan, memek Santi sangat sempit, dan kontolku yang lumayan besar sulit masuk. Saat itu akal sehatku bekerja. Aku akan berikan lagi kenikmatan pada Santi, tanpa harus menjebol keperawannya.Cerpen Sex


Pelan-pelan kumasukkan kontolku, sampai kepalanya bisa masuk, lalu kutarik keluar, kumasukkan lagi, kukeluarkan lagi, inci demi inci kontolku masuk. Dan kurasakan betul sentuhan kulit-kulit sensitif itu. Waktu kepala kontolku merasakan ada benda tumpul yang menahan, segera kuhentikan sodokan kontolku. Aku tahu benda itu selaput dara, aku tidak mau mengoyaknya.


Irama permainan mulai berubah cepat. Santi yang baru pertama kali merasakan senggama menggelinjang-gelinjang seperti kuda binal. Kupompakan kontolku maju mundur ke dalam memeknya, meski tetap menahan diri supaya tidak menerobos keperawanannya. Hanya bagian pangkal kontolku yang bisa keluar masuk ke memek Santi. Itupun sudah mengalirkan kenikmatan yang luar biasa buatku. Dan santi sepertinya juga menikmati permainan itu.


“Akkkkkhhhhh ommmmmmm trrrrruuuuuussss ommmm ennnnnaaaakkkk….. enttttttootttt aaakk ooomm, puuuuaaassssinnn aaaaakkkku ssssaaayyyyyaaaaanggg” Santi terus mendesah dan tubuhnya menggelinjang ga karuan.Cerpen Sex


Desahan Santi seperti minyak yang menyulut api nafsuku. Kugenjot santi dengan kecepatan tingggi. Akhhhhh oughhhhhh ssshhhhh Cuma itu yang keluar dari mulutku.


“oooooooooooommmmmmmmmmm ssssaaannnnttttttiiiiiiiiiiiiii nggggeeeeccccoooooottttt” kata Santi.


Tubuhnya bergetar hebat, tanda dia mengalami orgasme yang ketiga kalinya. Dan jepitan dikontolku makin kuat, ditambah omongan jorok Santi, serta gelinjang tubuhnya, membuat aku ga kuat lagi menahan dorongan air mani.


“santttttiiiiiii aaakuuuuu mau kellllllluuuuuuarrrrrrrrr.”


Langsung kucabut kontolku dari memeknya, dan kusemprotkan pejuhku di dada Santi. Crrrrrrooooottttt crooooottt crottt. Lima kali pejuhku menyemprot di tubuh Santi, itung-itung sebagai tambahan lulur di badan pengantin. Setelah keluar semua pejuhku badanku rebah di samping Santi.


“oughhhh enak banget memek kamu Santi, makasih ya….” kataku, sambil menatap langit-langit kamar.


Sesaat kemudian terdengar isak tangis Santi. Deggg jantungku deg-degan. Mungkin Santi menyesal sudah bersetubuh denganku. Akal sehat dan rasa berdosa mengganggu pikiranku.


“Kenapa kok kamu menangis Santi?” tanyaku.

“Om jahat….. om ga mau membantu Santi,” katanya sambil menangis. Aku makin bingung, apa maunya anak ini.

“Lho bukannya tadi sudah aku bantu, kamu juga sudah empat kali orgasme?” tanyaku.

“Iya… tapi om nggak mau menjebol keperawananku. Kata orang kalo keperawanan dijebol itu sakit, tapi tadi Santi ga ngerasa sakit, artinya Santi masih perawan.”

“Iya, kamu masih perawan, om pikir biarlah suamimu yang menjebol keperawananmu, bukan aku.” Kataku menghibur.

“Nggak mau, aku mau om yang menjebol keperawananku. Aku mau pejuh om di memek Santi. Aku mau kasih si tua jelek itu sisa-sia aja. Om ga tau kalo dari dulu Santi tertarik ama om, Santi cinta ama om…..” tangisnya makin tersedu-sedu.


Mendengar pengakuannya itu aku jadi makin bingung. Aku ga tau harus bagaimana. Akhirnya aku berpikir lebih baik menuruti kemauannya, daripada dia besok menolak dikawinkan sama Jeremy.


“Okelah Santi, om kabulkan kemauan Santi, tapi kamu janji besok kamu mau nikah sama Jeremy,” kataku. Santi mengangguk.


Aku ajak Santi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar, kubersihkan tubuh dan memeknya, kubersihkan juga kontolku. Setelah bersih kutuntun ia ke ranjang pengantin. Di situ kami kembali saling berpagut. Bahkan sekarang ciuman Santi lebih liar dari sebelumnya. Aku juga ga mau ketinggalan, aku lepaskan semua beban pikiran yang menghambat nafsuku. Aku pengen ******* Santi sampai aku puas. Pikiranku sudah benar-benar dikuasai nafsu.


Ciumanku turun ke payudaranya yang sudah mengeras lagi, dan tanganku menari-nari di paha Santi yang licin dan bening. Lalu ciumanku bergeser ke perut, kujilati tali pusarnya. Santi menggelinjang, geli dan nikmat. Setelah lidah puas menari-nari di pusar, lidahku menyusur ke bawah, menjilati dan menciumi pahanya. Lalu mulai menyerang memeknya, tanganku ganti ke atas, meremas-remas payudara yang montok. Kontolku semakin tegang mendengar lenguhan Santi. “Ommmm entot santi om, puasin santi malam ini…”


“Iya sayang, malam ini kamu punya om…..”


Permainan lidahku di memek santi lebih berani. Lidahku berani menusuk lebih dalam memek santi. Kugigit-gigit pelan clit Santi. Dan dari mulut santi Cuma terdengar lenguhan.


“oooooughhhhhhh ssshhhhhhhh aaaaakhhhhhh aaakhhhhhhhh” Kurasakan memek Santi makin banjir lendir, membuat aku semakin bergairah menyedot semua cairan lendirnya.


Dan kurang dari lima menit tubuh Santi kembali menegang, pahanya kembali menjepit kepalaku, dari mulutnya terdengar desahan.Cerpen Sex


“aaaakkkkhhhhhhh aakkkkkkkuuuuuuu kkkkkkkeeeelrrruuuuaarrr.” Lendir semakin banjir di memeknya dan kusedot semua sampai habis. Lendir perawan memang enak dan sedap.

“ayo oooommmm entot santiiii.” Katanya.


Lalu aku bangun dan kuarahkan kontolku ke memeknya. Kumasukkan pelan-pelan kontolku ke memeknya yang sempit. Masih butuh perjuangan biar kepala kontolku bisa masuk ke memeknya. Dengan beberapa kali maju mundur akhirnya kepala kontolku berhasil menerobos memeknya. Tubuhku kurebahkan menindih Santi, kucium bibirnya dengan penuh nafsu. Lalu aku berbisik,


“Kalo kamu kesakitan bilang aja, nanti om tahan.” Santi Cuma mengangguk.


Pantatku mulai maju mundur mendorong kontolku mmenerobos pertahanan anak perawan yang besok pagi mau dinikahkan itu. Pelan-pelan kumaju-mundurkan kontolku. Inci demi inci kontolku masuk ke memeknya. Sampai aku merasa selaput dara menahan laju kontolku. Dan sekarang aku tak ambil pusing lagi, dengan pelan-pelan kutekan kontolku biar bisa menerobos keperawanan Santi. Dan kulihat mata Santi terbelalak menahan sakit. Biar dia ga berteriak, kulumat bibirnya dengan rakus.


Pantatku masih terus bekerja maju mundur berusaha menjebol gawang Santi. Dan tangan Santi memegang pinggangku seperti ingin menahan. Aku tahu ia menahan sakit, tapi sudah terlanjur. Selaput dara Santi sudah mulai robek, kontolku sudah mulai bisa masuk tanpa halangan lagi. Semakin cepat kupompa kontolku ke delam memeknya, biar Santi ga terlalu lama merasakan sakit. Beberapa saat kemudian rasa sakit sudah hilang digantikan rasa nikmat. Santi kembali meracau keenakan.


“ommmm trruuuusssssss yakhhhhhhh…. eeeennnnnnnaaaakkkkk ommmmmmmmmmmmm”

“Ouuuughhhhhhh yeaaahhhhhhh ommmm jugaaa ennnnakkkkk, memekmu peret banggggeeettt”

Semakin cepat sodokan kontolku dimemek Santi, semakin rasa desahannya.

“Akhhhhsssshh ommmmm Santi mooo kellurrraarrrr”

“Sammmma ommmmm jjjuggga. Keluarin dimana??”

“Di dalem ajahhhh ooommmmm” Slot Online Terpercaya


Semakin kupercepat sodokanku, dan Santi mengimbangi dengan memaju mundurkan pantatnya. Sampai kemudian kami bersamaan ngecrot. “Ommmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm”.


“Akkkkkkkkkkkkkkkkhhhhhssss Saaaannnnnnnnnnnnnnn”


Croooooooot crooorrrr croooooorrrr. 8 kali pejuhku nyemprot di memek Santi. Dan sepertinya Santi juga banyak keluar lendirnya..


Kulirik jam dinding sudah jam 2 malam. Segera kucabut kontolku dari memek Santi. Dan kukecum keningnya. Santi terpejam sebentar dan mengucapkan terima kasih.


“Santi puasssssss banget ngentot sama om, om hebat. Santi juga puas ngerjain si tua bangka itu. Kapan-kapan ******* lagi ya om.” Kujawab dalam hati, siapa yang nolak diajak ngentot sama gadis seliar Santi?


Dan esoknya, di pelaminan kulihat Santi duduk sambil senyum-senyum memandangku. Senyum kemenangan dan kepuasan. Sedang Jeremy yang sudah penuh uban itu, duduk dengan jaim. Kadang muncul rasa kasihan dalam diriku pada Jeremy, karena keperawanan istri diberikan padaku. Aku yang mendahului malam pertamanya. Tapi apa boleh buat, Santi yang menentukan

Cerita Sex Klitoris Calon Pengantin

Wahana Libido - Cerita Sex Keponakan Si Bos, Semenjak kedatangannya, suasana kantor agak berubah. Orang-orang jadi semakin rajin, entah mengapa. Dia bukanlah direktur yang baru, bukan pula sekretaris baru yang seksi. Namanya Nadya. Perempuan berumur 27 tahun ini disukai sekaligus dibenci. Disukai karena kerjanya cepat dan sangat efektif, serta sangat cerdas, tetapi disisi lain dia selalu mengeluh dan memarahi kami karena keterlambatan kami atau hal-hal sepele lainnya.


Nadya bukanlah seorang direktur dan juga bukan senior designer. Posisinya sama denganku, junior designer. Yang membedakannya denganku dan beberapa teman lainnya adalah, Nadya lulusan universitas kenamaan di Amerika, dengan prestasi cum laude. Selain itu Nadya juga keponakan dari Owner perusahaan desain interior ini. Berdarah Jawa- Belanda, dengan tampang indo layaknya model2 catwalk, rambut hitam panjang, dengan kacamata tipis dan pakaiannya yang selalu modis, sudah barang tentu lelaki menyukainya.

Cerita Sex Keponakan Si Bos

Namun entah kenapa kami malas untuk akrab dengannya, selain karena sikapnya yang selalu ketus dan tidak bersahabat itu, juga karena kami merasa tidak selevel dengannya. Apalagi kebanyakan dari kami adalah lulusan universitas lokal, dan sewaktu kuliah, membolos sudah jadi makanan kami (tidak bisa nyontek di kuliah desain interior). Walaupun kami datang dari universitas mentereng, tetap saja tidak bisa membandingkan diri kami dengan Nadya. Situs Togel Online Terbaik


Aku sendiri berumur 29 tahun, masih jomblo dan belum menikah. Bukan karena aku tidak laku, tapi aku masih agak shock ketika setahun yang lalu pacarku selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Memang mereka tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma kesusilaan, tetapi jalan dengan cowok lain dan saling berkirim sms mesra di tengah-tengah persiapan pernikahan, apa bukan selingkuh itu namanya ?


Teman-temanku yang lain sering menggodaku agar aku mendekati dan mencoba akrab dengan Nadya, karena menurut informasi yang beredar, Nadya belum punya pacar. Wajar saja hal ini terjadi mengingat yang masih bujangan di kantor ini selain aku dan Nadya, Cuma ada seorang desainer senior yang selalu tidak beruntung dalam masalah percintaan, dan seorang office boy. Aku pun bertanya-tanya kenapa Nadya tidak laku padahal dia sangat cantik dan pintar. Apa karena sikapnya yang ketus ? atau mungkin saja dia lesbian ? hahaha.


Minggu ini minggu yang sangat melelahkan. Selain mengerjakan desain interior untuk sebuah mall yang akan dibangun, aku dan Nadya harus rapat sore hari bersama developer sebuah gedung perkantoran. Selama di mobilku, Nadya hanya diam saja, sembari mendengarkan musik di ipodnya. Sudah barang tentu dia pasti tidak akan menjawab jika aku sekedar ingin mengobrol atau berbasa-basi dengannya.


Sebab selama ini pembicaraanku dengan dia hanya sebatas pekerjaan saja. Dia juga tidak pernah bergabung dengan orang2 kantor mencari makanan murah disekeliling gedung perkantoran. Entah dia makan dimana, karena menurut para direksi dan senior designer, Nadya tidak pernah makan bersama mereka. Tentu saja, karena walaupun sudah berduit dan lebih berumur dari kami, para direksi dan senior designer pasti mencari makan murah untuk berhemat.


Rapat berlangsung sangat lama. Waktu sudah menunjukkan pukul jam 8 malam. Tetapi Nadya masih berdiskusi dengan pihak pengembang soal konsep desain interior gedung perkantoran itu. Bila rapat dengan rekan yang lain, pasti mereka akan mencari2 alasan atau sengaja mengarahkan pembicaraan agar rapat cepat selesai. Akhirnya rapat selesai juga. Waktu menunjukkan pukul 8.30. rapat berlangsung sangat lancar, dan tidak satupun ucapan Nadya yang dibantah. Harus kuakui gadis ini sangat hebat dalam berargumen.


Jalanan sudah agak lengang karena jam macet sudah lewat. Aku dan Nadya berada di dalam mobil, menuju ke kantor. Aku membuka pembicaraan.


“Udah malem, di kantor ga ada siapa-siapa, mau cari makan dulu sebelum kembali ke kantor ? “ tanyaku berbasa basi.

“Gak usah, langsung ke kantor aja” jawabnya pelan dan pasti.


Tak sampai 5 detik dia langsung memasangkan headset ipod ke telinganya. Buset. Dingin sekali tanggapannya. Yasudah. Aku tidak ambil pusing, dengan buru2 aku segera menyetir mobil ke arah kantor, agar aku bisa cepat pulang dan makan malam.


Kantor kami terletak di sebuah gedung berlantai 7, di daerah yang mentereng di Jakarta Selatan. cerpensex.com Kantor Konsultan desain interior kami berada di lantai paling atas, berbagi lantai dengan 3 kantor lainnya. Aku memarkirkan mobilku dengan asal2an di tempat parkir. Tumben, pikirku, para satpam lagi kemana ? aku dan Nadya langsung masuk, menaiki lift, dan kemudian masuk ke kantor. Suasana kantor agak gelap karena memang sudah tidak ada siapapun. Aku mencoba membuka pintu pantry untuk mengambil makanan ringan di kulkas, namun pintu pantry sudah terkunci. Memang kebiasaan office boy kami untuk mengunci semua pintu di kantor kecuali pintu utama, yang biasanya selalu dikunci oleh satpam setelah semua pergi.


Untung saja pintu belum dikunci ketika kami masuk. Entah karena malas atau apa, kami tidak menyalakan lampu utama. Karena besok pagi desain awal hasil rapat sudah masuk ke desainer senior, maka kami membereskan hasil rapat tadi di ruang rapat utama. Nadya bekerja dengan sangat teliti mengetik laporan dengan MacBook nya. Sementara aku mengumpulkan hasil sketsa ‘dan denah ruangan dalam satu bundel, sambil menahan perut lapar dan tak henti2nya aku melihat ke arah jam. Setelah tugasku beres, aku membereskan mejaku, dan bersiap untuk pulang sementara Nadya mem-print hasil ketikannya. Nadya sudah akan pergi ketika aku memasukkan alat tulis ke tasku.


“Aku pulang duluan ya..” Nadya berjalan ke arah pintu. Aku tersenyum sekenanya dan meregangkan tubuh dulu sebelum benar2 akan pulang. Tiba2…

“SHIT !” aku mendengar teriakan Nadya dari arah pintu utama. Aku bergegas berlari ke arah pintu utama. Rupanya Nadya sedang berdiri mematung di depan pintu yang tertutup.

“Kenapa ?” tanyaku heran

“Pintunya dikunci” jawab Nadya sambil menarik2 handle pintu sekuat tenaga.


Sial, pikirku. Rupanya tidak ada satpam di luar itu dikarenakan mereka sedang patroli, sekaligus mengecek adakah orang yang lembur malam ini. Rupanya karena kami berdua tidak menyalakan lampu2 utama, yang menyebabkan ruangan kantor seperti tidak ada orang, mereka mengunci pintu tanpa memeriksa terlebih dahulu. Aku mulai panic karena jalan satu2nya keluar dari kantor ini adalah pintu itu. Tangga darurat ada di seberang pintu kantor. Sial. Sekali lagi sial. Semua pintu sudah dikunci. Aku berlari mengintip ke jendela. Sia2. Jendela kantor kami tidak ada yang menghadap ke kantor satpam. Aku blingsatan kesana kemari, dan dengan marah kutendang pintu kaca yang tebal itu. Tak ada reaksi kecuali kakiku sakit. Desain pintu yang kuat agar kantor aman ternyata menjebak kami di kantor.


Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku dan menelpon office boy, untuk menyuruhnya kembali ke kantor. Sial sekali lagi. Telponnya tidak aktif. Hebat.


Nadya diam, walau bisa kulihat mukanya memerah menahan marah. Mungkin dia juga ingin cepat pulang, ada janji atau apapun. Tapi Nadya tetap berusaha kalem dengan menelpon pamannya, sang owner perusahaan desain ini. Aku bisa mendengar percakapan mereka.


“Hallo om..”

“Eh Nadya, ada apa ?”

“Om, aku kekunci di kantor”

“Lah kok bisa ? “


Nadya menjelaskan situasinya ke pamannya.


“Waduh…. Gawat juga.. OB nya pun ga bisa ditelpon ?”

“Iya om….”

“Teriak-teriak gih, coba panggil satpamnya” Percuma, kupikir.


Iklan Sponsor :


Aku pernah lembur dan melihat kelakuan para satpam itu ketika waktu sudah menunjukkan jam 9 keatas. Setelah patroli dan mengunci pintu-pintu utama, mereka langsung ke kantor mereka, untuk nonton tv rame-rame, main kartu, bahkan kadang-kadang mabuk bareng.


“Ga bisa om…” nada bicara Nadya sudah mulai memelas.

“Hmm… om akan usahakan cari bantuan, tapi om lagi di luar kota sekarang”

“KOK OM GAK BILANG DARI TADI KALAU ADA DI LUAR KOTA ?!?” Nadya meledak.


Ditengah kekalutan aku mencoba menelpon semua nomor telpon kantor. Dan sialnya, kebanyakan dari mereka tidak aktif. Ada yang mengangkatnya dengan background suara hingar bingar diskotik dan suara teler ga karuan. Tolol. Di tengah minggu malah dugem. Nadya, terus menekan pamannya. Aku berusaha menelpon semuanya, tetapi entah kenapa sinyal hapeku tiba2 hilang. Aku kalut, mencari telpon kantor. Dan hanya telpon di meja front office saja yang bisa dipakai untuk menelepon ke luar.


Aku berlari kearah front office dengan panik. Dan bodohnya tiba2 aku terjatuh tersangkut pojokan meja. Aku jatuh ke meja menimpa telpon kantor. Aku kaget dan langsung bangkit. Berharap telpon tidak rusak. Aku lalu mengangkat telponnya. Ternyata ada nada sambung. Aku mencoba menekan nomer yang kuhapal. Lagi2 sial. Rupanya kejadian tadi menyebabkan tombol 0 rusak dan tidak bisa ditekan. Nomer telpon HP mana yang tidak ada 0 nya ? sedangkan aku tidak punya nomor telpon rumah orang kantor. Ide tiba2 muncul, aku membuka laci front office untuk melihat data nomer telpon pegawai.Cerpen Sex


SIAL ! SIAL! Lacinya terkunci. Sementara itu Nadya masih menelpon pamannya.


“JADI GIMANA DONG OM ?!?” Bentak Nadya

“Sabar, kamu sama siapa disana ?”


Nadya menyebutkan namaku.


“Oh… sama dia…. Aman kalau sama dia, Nadya, kamu tunggu besok aja, kamu…” Belum sempat pamannya menyelesaikan kalimatnya, Nadya dengan kesal melemparkan handphonenya ke dinding dan handphonenya hancur berkeping2.


“Kenapa kamu banting ?!?!?” Bentakku


Nadya hanya terdiam. Dia menarik nafas dalam2.


“Telpon kantor ? “ tanyanya pendek

“Rusak” jawabku tak kalah pendeknya.

“Kenapa ?” Mukanya mulai memerah. Matanya berkaca2

“Tadi aku jatuh, telponnya ketindih badanku” Aku menjawab sambil memalingkan muka.

“TOLOL !!” Nadya membentakku dan tangan kanannya mengayun akan menampar pipiku.


Dengan tangkas aku menangkap tangannya dan melepasnya kembali.


“Lebih tolol mana sama orang yang ngebanting hape nya sendiri ? “ sindirku.


Ruang rapat penuh asap rokok sekarang. Aku menghisap rokok kretekku dalam2 dan membuang asapnya ke langit2. Nadya duduk di pojokan sambil menghisap rokok mentholnya. Kami sudah saling diam selama 30 menit lebih. Tidak ada alasan bagiku untuk mengobrol dengan wanita judes ini. Bikin pusing. Tapi aku mencoba menengok untuk melihat keadaannya. Khawatir juga. Jangan2 nekat gantung diri.


“Apa kamu lihat2 ?” Nadya membalas tatapanku dengan pertanyaan dingin

“Gw punya mata, boleh dong liat kemana aja” Jawabku tak kalah dingin.

“Ngeri tau gak, berdua doang sama cowok macem kamu”

“Eh…. Lu baru masuk kemaren sore Nad, blom kenal siapa gw..” Aku menatap penuh emosi ke arah Nadya.

“Ah…semua cowok sama aja” Nadya membuang muka

“Apa maksud lu ?” Tanyaku penasaran

“Ah, tau lah….” Jawabnya sembari mematikan rokoknya di pot bunga yang sekarang beralih fungsi sebagai asbak.

“Lo tau kan otak cowok isinya seks melulu ?” Suara Nadya terdengar tidak enak


Aku hanya terdiam.


“Bahaya tau gak berdua doang sama cowok asing. Salah2 gw diperkosa” Nadya berkata ketus

“EH. Sori ya mbak-sok pintar-lulusan luar negri-masuk karena koneksi” Nada bicaraku meninggi. “Biar kata lu cantik, juga, ga bakal ada cowok mau perkosa lo ! Mana ada orang mau merkosa orang ngeselin macem elo !!!” Bentakku.

“Orang yang gak bisa bersosialisasi macem lo ! Orang yang egois ! Ga ada empati sedikitpun sama orang kantor ! Ga ada bagus2nya! Mentang2 ni kantor punya om lu, lu mau seenaknya aja disini ?!?!? “ Aku sudah naik pitam. Tidak mampu menahan kesabaran lagi.

“Ah… “ Nadya tidak bisa berkata2 lagi.

“Enak aja lo bilang gw mau merkosa elo ! mendingan gw tidur ama pecun daripada nyentuh badan lo !” Nafasku habis. Sudah kuluapkan semua kekesalanku kepada Nadya.


Tiba-tiba Nadya berlutut. Melepas kacamatanya dan mulai menitikkan air mata. Dia membanting kacamatanya dan mulai menangis sesenggukan. Shit. Rupanya kata2ku tadi kelewat kasar. Makin lama tangis Nadya makin keras. Aku pun berlutut mendekatinya dan mencoba memegang bahunya.


“Nadya…. Sorry… mungkin gw terlalu kasar” aku meminta maaf


Nadya menepis tanganku dan terus menangis.


“Nad….” Aku agak membungkuk untuk melihat wajahnya.


Tapi tiba2 Nadya memelukku dan menangis di dalam pelukanku. Aku terdiam sembari mengelus2 punggung Nadya. Sekitar 10 menit dia menghabiskan tangisnya di pelukku. Aku yang pegal lalu duduk di lantai bersandar pada dinding. Nadya duduk di sebelahku, dengan pandangan kosong. Tak beberapa lama Nadya memulai pembicaraan.


“Maaf… tadi aku lancang ngecap kamu” katanya pelan

“Gw juga Nad… maaf tadi terlalu kasar” jawabku.

“Aku yang mulai” lanjut Nadya. “Kupikir semua laki2 sama. Baik pada awalnya tapi ternyata brengsek”

“Ah. Semua laki2 brengsek kok Nad” Jawabku.Cerpen Sex


Lalu kami terdiam cukup lama.


“Aku pernah diperkosa” Nadya tiba2 bercerita.

“Eh……” Aku tidak bisa menyembunyikan mimik heran dari mukaku.

“Waktu aku baru kuliah di US, ada kakak kelas yang ngedeketin aku..” Lanjut Nadya

“Dia baik banget, sampe pada akhirnya aku diundang ke pesta di asramanya… Pestanya rame, dan ternyata minumannya beralkohol semua.”

“Aku dibuat mabuk” dia terus bercerita “ Lalu aku dibawa masuk ke kamar, dan disana aku diperkosa olehnya” Nadya menghela nafas panjang dulu.

“Sejak saat itu aku ga pernah percaya sama cowok” Nadia lalu mengambil sebatang rokok menthol dari bungkusnya, meremas bungkusnya yang sudah kosong, lalu melemparkan bungkusnya ke pot bunga.


Aku memberikan korek apiku ke Nadya. Nadya lalu menyalakan rokoknya dengan korek milikku.


Aku tidak berani berbicara lagi. Aku tadi telah lancing berbicara seperti itu kepada Nadya.


“Gimana kehidupan cinta kamu ?” tanya Nadya

“Mmmm…” Aku diam tak berani menjawab

“Setelah kejadian itu, aku ga pernah berhubungan sama laki2 lagi” katanya. “Sekarang giliran kamu cerita” Katanya sambil tersenyum kepadaku


Aku sedikit terkejut. Ternyata jika tersenyum Nadya manis sekali. Aku tidak pernah melihatnya tersenyum semenjak dia masuk kantor.


“Mmmm… Aku harusnya tahun lalu nikah…” jawabku

“Tapi ?” Tanyanya sambil menghisap rokok mentholnya.

“Tunanganku selingkuh” Jawabku pelan.


Tak ingin rasanya menceritakan hal tersebut. Aku menarik nafas dalam2 dan memandang ke arah langit2. Nadya tidak menimpali jawabanku. Dia mematikan rokoknya di pot bunga.


Waktu berjalan sangat lama. Aku dan Nadya berbicara tentang banyak hal. Mulai dari jaman kuliah, sma, segala macam. Ternyata Nadya menyenangkan jika diajak bicara. Tak jarang ia tertawa bersamaku, menertawakan kejadian2 konyol di kantor yang terjadi sebelum kedatangannya. Tak terasa sudah jam 12 malam. Aku sangat capek. Aku mencoba tidur. Aku masih bersender pada dinding, sementara Nadya tertidur, dengan menggunakan bahuku sebagai sandaran.


“Dingin……” Nadya tiba2 memelukku.


Aku tak tahu harus berbuat apa. Sebagai lelaki normal, yang sudah lama tidak berhubungan dengan perempuan, aku tiba2 merasa deg2an, dan suhu tubuhku memanas. Aku mengira Nadya bisa merasakannya, karena dia memeluk tubuhku sekarang.


“Hmmmm.. jadi yang bujangan di kantor Cuma aku, kamu, sama Pak Yudi ? “ tanya Nadya.

“Iya” jawabku pelan sambil menahan perasaan aneh ini.

“Hehe” Nadya tertawa kecil

“Kenapa ? “ tanyaku.

“Nope… nothing” katanya sambil menahan tawa.

“Well… I guess. Ga ada salahnya kalo satu dari kalian aku pacarin” Nadya melanjutkan ucapannya.

“Oh jadi lu demen ya sama om2 bujangan tua” timpalku

“Haha… enak aja. Coba kamu itung, 45 – 27 = 18, jauh kan umurku sama Pak Yudi” jawabnya

“27 ? Kirain 35…” ledekku.


Nadya berusaha untuk menjewer telingaku tetapi aku menghindar, menangkap tangannya, tetapi aku kehilangan keseimbangan duduk, sehingga aku terjatuh kearah kanan dan tak sengaja menarik Nadya ikut jatuh juga menimpa tubuhku. Aku yang jatuh menyimpang kekanan ditimpa oleh Nadya yang menghadapi telingaku. Akhirnya dia menjewer telingaku tanpa ampun.


“Aduh !. Sakit tau !” Aku berusaha memberontak tapi Nadya malah tertawa2 dan tidak melawan rontaanku.


Aku berusaha bangkit tetapi Nadya malah memelukku.


“Aku ingin diperlakukan dengan lembut oleh laki2” bisik Nadya.


Aku memperbaiki posisi jatuhku. Aku tiduran terlentang di ruang rapat, dan Nadya menimpa tubuhku. Aku bangkit, dan Nadya ikut memperbaiki posisinya. Aku kembali duduk, tetapi sekarang Nadya ada di pangkuanku dan tetap memelukku. Situs Togel Online Terpercaya


“Aku merhatiin kamu terus semenjak pertama kali masuk kantor” Nadya kembali berbisik.

“Kamu paling sopan, dan lembut sama perempuan kalo dibandingin sama yang lain”

“Ditambah lagi… kamu belum nikah kan… dan om ku bilang, kamu orang yang baik” Nadya terus berbicara.

“Baru tadi kan bilangnya, gw juga denger” jawabku

“Enggak. Dari awal aku masuk kantor, om udah bilang kalo kamu selain kinerjanya paling bagus, kamu juga sopan, ramah dan orangnya menyenangkan” Nadya membantah ucapanku.

“Kayaknya lucu kalau kita pacaran……” Nadya melanjutkan ucapannya.


Aku kaget. Baru pertama kali seumur hidup ada perempuan yang mengatakan ingin kupacari. Dan perempuan itu adalah perempuan yang cantiknya minta ampun seperti Nadya. Aku tak bisa bicara apa2.


Kami berdua saling memandang. Tiba2 entah siapa yang memulai, kami memajukan kepala kami masing2 dan berciuman. Bibir Nadya sungguh hangat. Aku memeluk erat pinggangnya dan Nadya meremas rambutku. Kami berdua berciuman sangat lama. Kurasakan kacamata Nadya menekan2 mukaku. Tapi aku tidak peduli. Bibir kami saling memagut. Lidah kami saling beradu. Aku semakin menguatkan pelukanku. Dan nadya melepaskan ciumannya. cerpensex.com Hidungnya beradu dengan hidungku. Dapat kurasakan nafasnya yang panas dan memburu. Nadya melepas kacamatanya dan meletakkannya di sembarang tempat. Tanpa terasa Nadya membuka kancing bajuku. Dia melakukannya sambil menciumi leherku. Agak sulit membuka kancingku dalam keadaan seperti itu, tetapi Nadya cuek.


Aku tak mau kalah. Kulepaskan leherku dari jangkauan bibir nadya, dan mulai meraih kancing kemejanya. Tak berapa lama bajunya terbuka. Tanpa diminta Nadya membuka ikat pinggangnya dan melepas celananya. Didepanku berdiri perempuan blasteran Jawa-Belanda, dengan kulit yang putih dan mulus, hanya memakai pakaian dalam berwarna merah menyala. Aku menelan ludah, melihat tubuh Nadya yang indah, bagaikan model catwalk yang langsing dan proporsional.


Nadya kembali menyerangku. Bibir kami kembali saling berciuman, tanpa sadar tanganku mengarah pada buah dada Nadya. Aku meremasnya dengan lembut. Buah dadanya yang proporsional terasa sangat empuk di tanganku. Aku dengan cepat menyisipkan tanganku ke dalam BHnya. Nadya tiba2 memegang pergelangan tanganku. Dia menahan tanganku dan seakan menyuruhku untuk mundur. Setelah aku menarik tanganku kembali, tangan Nadya mengarah ke punggungnya, dan dia melepas pengait BHnya, melepas BH nya sendiri. Nadya tersenyum kepadaku dan berkata


“Kenapa melongo gitu…. Kayak orang bego tau….” Aku malu sendiri dan membuang muka.


Nadya memegang pipiku, dan kemudian tangannya menyusuri badanku, untuk kemudian membuka ikat pinggangku. Aku pasrah, dan Nadya pun menciumi badanku mulai dari leher sampai ke perutku. Aku kaget saat tangan Nadya masuk ke celana dalamku dan menggenggam penisku. Nadya lalu mengoral penisku. Aku sedikit kaget, karena tidak terbiasa dengan oral seks. Pada saat dengan tunanganku dulu, boro2 oral seks, pegang2 sedikit saja sudah kena marah. Padahal aku bukan orang yang tanpa pengalaman seks. Sebelum berpacaran dengannya, aku beberapa kali melakukannya dengan pacar2ku yang dulu.


Aku meringis menahan geli akibat permainan lidah Nadya. Dia sangat pintar memainkan penisku dengan mulutnya. Tindakannya bervariasi, tidak hanya mengulumnya, tetapi juga dengan menciumi bagian2 yang sensitive dan memainkan lidahnya di kepala penisku. Kupikir, sebelum kejadian perkosaan yang menimpanya di US, Nadya sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.


Aku kaget dan berusaha menahan kepala Nadya ketika kurasakan spermaku hampir keluar. Nadya tampaknya mengerti dan menghentikan kegiatannya. Dan dalam beberapa menit kemudian, Nadya menanggalkan semua baju dalamnya, begitu juga denganku. Badan telanjang kami berdua bergumul di lantai ruang rapat. Saling berciuman, berpelukan dan menikmati keindahan tubuh masing2.


Hingga pada akhirnya Nadya telentang di atas karpet, kepalanya tepat berada di bawah kepalaku. Mataku memandang lekat2 matanya yang indah.


“Nad…”

“ya…. “ jawabnya

“Are you sure you want to do this ?” tanyaku

“Why did you ask ?” katanya sambil tersenyum.

“We’re already gone too far” lanjutnya.

“and now I consider you as my lover though” senyum tipisnya meluluhkan hatiku.


Aku mencium keningnya. Kedua kaki Nadya tanpa disuruh kini telah melingkari pinggangku. Kami berciuman dengan hangat. Kedua tangannya melingkari leherku. Kudekatkan penisku ke mulut vaginanya yang mulai terasa basah. Pelan2 aku menggesekkan penisku di mulut vaginanya, mencari jalan masuk. Tetapi tiba2 otot vaginanya menegang, seakan menolak penisku untuk masuk. Aku terdiam dan memandang wajahnya, aku takut dia masih trauma akibat kejadian di US itu.


“It’s okay….” Nadya mengisyaratkan bahwa dia tidak apa2.


Nadya membuka pahanya sedikit lebih lebar lagi dan dia tampak mencoba untuk rileks. Pelan2 kudekatkan kembali kepala penisku di bibir vaginanya. Kepala penisku sudah mulai masuk. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur, walaupun baru sedikit yang masuk. Perlahan namun pasti, penisku semakin masuk kedalam lubang vaginanya.


“aah….. “ Nadya mengerang pelan dan agak meringis ketika penisku masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya.


Aku menggerakan penisku maju mundur dalam posisi misionaris.


“Mmmhhh… sayang… pelan2 “ Nadya mengingatkanku untuk tidak bergerak terlalu cepat. Dinding vaginanya seakan memijat2 batang penisku dengan lembut.

“Aahhh… sayang… mmmhhh….. uuhhh…” Nadya mengerang, menandakan dia mendekati orgasme.


Tetapi aku tidak ingin malam ini berakhir secepat itu. Aku menghentikan gerakanku, dan ketika Nadya akan membuka mulutnya untuk bertanya, aku langsung meraih pantatnya dan menggendongnya. Aku kemudian duduk di kursi rapat dan menaikkan badan Nadya di pangkuanku. Nadya mulai berpegang pada pundakku. Dia mengerti dan segera menaikkan pantatnya, lalu dengan pelan2 dia mengarahkan lubang vaginanya ke kepala penisku. Nadya bergerak naik turun di pangkuanku. Vaginanya terus2an memijat2 batang penisku dengan lembut.


Aku memegangi pinggangnya. Nadya menghentikan gerakannya dan berbisik lembut kepadaku. “Sayang… kalo udah mau keluar bilang ya…. Aku gak mau kamu keluarin disitu…” aku mengiyakannya dan dia mulai kembali beraksi. Goyangannya tidak liar dan asal, tetapi begitu rapih. Begitu elegan dan anggun. Suara erangan kami memenuhi ruang rapat. Kami sudah tidak peduli lagi tentang kemungkinan satpam kembali lagi keatas dan menolong kami yang terkunci. Aku sudah tidak berpikir lagi untuk kembali menelpon orang kantor, atau mencoba mendobrak pintu pantry dan keluar lewat tangga darurat.


Yang ada dipikiranku hanyalah Nadya. Rasanya tidak percaya gadis yang tadinya cuek dan judes kepadaku ini bisa ada dipelukanku sekarang.


“Mmmmmhhh….” Nadya agak menggelinjang.

“Aaahhh…..” Nadya kembali bersuara


Aku bisa merasakan Nadya akan mengalami orgasme, karena selain merasakan gelinjangan tubuhnya, aku pun merasakan vaginanya makin menjepit penisku. Aku pun mengimbangi dengan menggerakkan pantatku.naik turun di kursi itu. Kursi yang biasanya dipakai rapat itu menjadi saksi bisu percintaan kami.


“Sayang……. Ahhhhh….” Nadya pun makin mempercepat gerakannya.


Aku lalu bangkit sambil menggendong Nadya. Aku mendudukkan Nadya di meja rapat, Nadya tetap memelukku, dan aku terus menggerakkan penisku maju mundur.


“Uuuhh…. Uhhhh…. Sayang……. Aku mau…. Ahhhhh….” Nadya menggelingjang dengan hebatnya…

“Tahan sedikit… aku juga mau…..”

“Ahhhhh…..” paha Nadya mencengkram pinggangku dan kepalanya mendongak keatas.


Mengerang nikmat menandakan bahwa dia sudah orgasme. Aku terus menggerakkan penisku, dan…


”Nadya…. Ahhh…..” Nadya jatuh telentang di meja rapat dan aku mencabut penisku dari lubang vaginanya.


Sperma segera berhamburan dari penisku. Nadya segera bangkit dan memelukku. Kami berpelukan erat. Tidak berciuman, tidak melakukan apapun. Hanya berpelukan selama beberapa lama tanpa berbicara apa2. Nadya lalu melepaskan pelukannya dan turun dari meja. Dia lalu mencium pipiku lembut, kemudian dia mulai memakai kembali bajunya.


Aku masih berdiri telanjang dan tertegun. Melihat Nadya yang bagaikan malaikat itu memakai bajunya satu persatu.


“eh… pake baju dong…. Ntar keburu pagi” Nadya mengingatkanku


Aku segera mengenakan kembali bajuku. Aku kembali mencoba tidur dengan bersandar di dinding. Nadya kembali pada posisinya, bersandar di bahuku.


Singkat cerita pagi pun datang. Kami berhasil keluar jam 7 pagi. Hari itu kami berdua sengaja diliburkan karena kejadian konyol itu. Selanjutnya bisa ditebak. Nadya mulai terbuka pada orang2 kantor. Dia sudah bisa berkomunikasi dengan akrab, dan sinisnya makin lama menghilang. Ditambah lagi ketika kini kami sudah berpacaran. Nadya menjadi ceria dan orang2 kantor tampak takjub melihat perubahan itu.


One thing leads to another. Dan sekarang, setelah kegagalan pernikahanku yang dulu, setelah beberapa lama berpacaran, aku akan mempersiapkan pernikahanku dengan Nadya.

Cerita Sex Keponakan Si Bos

Wahana Libido - Cerita Sex Black Note 3, Uang dan kekuasaan. Dua hal tersebut adalah ‘tuhan’ di negeri yang korup ini. Apapun bisa dilakukan dan terjadi dengan keduanya. Penjara yang seharusnya menjadi tempat yang dingin dan menyeramkan sekalipun bisa berubah menjadi ‘kamar hotel’ yang nyaman. Lihat saja mantan jaksa yang terlibat kasus suap BLBI dan telah divonis penjara, Urip Tri Gunawan. Alih alih ditempatkan di sel berjeruji, ia malah mendapatkan sebuah ruangan yang meski agak sempit namun lengkap dengan segala fasilitas yang menjamin kenyamanan. Kasur empuk plus selimut, televisi dan DVD player lengkap dengan setumpuk film kesukaannya ( termasuk didalamnya JAV movies ) dan juga lantai berkarpet tebal. Satu satunya yang masih mencirikan jika ruangan itu adalah penjara hanyalah sebuah pintu besi dan jendela berjeruji yang terletak tinggi mendekati atap. Urip tak mempermasalahkan ukuran ruangan yang tak terlalu besar. Yang penting baginya ia bisa menghabiskan masa hukuman dengan ‘nyaman’. Uang dan kekuasaan yang dimilikinya telah menjamin itu semua.


Salah satu previlige lain yang dimiliki Urip adalah dibolehkannya dia untuk menerima tamu kapan saja dan siapa saja tanpa ada batasan atau aturan apapun. Seperti halnya hari itu, Urip sedang menerima tamu khusus. Disebut khusus karena tamunya hari ini adalah juga terpidana kasus suap BLBI, ‘partner in crime’ nya, dia adalah si tante modis Artalyta Suryani (Ayin). Ayin pun sebenarnya sudah divonis penjara seperti halnya Urip. Namun kombinasi dari setumpuk uang, sepasukan pengacara tangguh dan sederet koneksi di kejaksaan membuat Ayin bebas keluar masuk dari tempatnya ditahan. Alasan yang digunakan adalah klise, yaitu sakit dan harus berobat. Bahkan dengan alasan fasilitas yang tak memadai, Ayin sudah mengantongi izin untuk berobat ke rumah sakit di Singapura.

“aku gak bakal balik lagi ke sini…” bisik Ayin pada Urip.


Tak adanya perjanjian ekstradisi dengan Indonesia membuat Singapura menjadi surga pelarian bagi para koruptor kakap negeri ini.


Urip memang sudah menduga jika Ayin akan merencanakan itu, karenanya ia tak terlihat terkejut. Urip hanya menanggapi seperlunya saja saat Ayin membeberkan rencana pelariannya dan mengatur skenario alibi bersama. Urip menganggap saat ini sebaiknya baik dirinya maupun Ayin mengurus diri masing – masing. Sikap dingin Urip rupanya membuat Ayin kecewa dan agak tersinggung. Ia pun meninggalkan sel Urip dengan ekspresi kesal dan mengomel tak jelas dalam bahasa Mandarin. Situs Togel Online Terbaik


“mau lari ke neraka juga…peduli amat…!!!” gerutu Urip setelah Ayin pergi. Ia memang cenderung menyalahkan Ayin atas gagalnya ‘kerjasama’ mereka, apalagi terbongkarnya kasus merekapun disebabkan juga dengan tersadapnya sambungan telepon milik Ayin.


Sepeninggal Ayin, Urip duduk gelisah menunggu kedatangan tamunya yang lain. Ia berkali kali melirik jam di meja, tamunya sudah terlambat satu jam. Urip kian gelisah. Ia berbaring tak tenang untuk sesaat lalu bangkit dan menyalakan TV. Urip menatap layar TV tanpa minat, chanelnya terus menerus ia ganti hingga akhirnya bosan sendiri dan mematikan TV. Kembali melihat jam, tamunya sudah terlambat dua jam dari yang dijanjikan. Urip mendengus kesal dan menjatuhkan tubuhnya dengan keras ke tempat tidur. Matanya terpejam, entah berusaha untuk tidur atau hanya menenangkan diri saja.


Beberapa menit kemudian Urip terlonjak kaget saat pintu selnya terdengar terbuka, ia bangkit dan menatap penuh harap. Seorang penjaga masuk dengan bahasa tubuh layaknya seorang bawahan yang sedang menghadap atasannya.


”maaf pak….anu…tamunya sudah datang….”


”akhirnya….” Urip menghembuskan nafas lega , ” ya sudah…langsung suruh masuk…dari tadi kek…..”


”baik pak….permisi….”


Penjaga itu segera menghilang di balik pintu dan tak lama kemudian berganti dua orang wanita cantik memasuki sel Urip. Saat masuk, kedua wanita itu menunjukan ekspresi wajah yang berlainan. Yang seorang terlihat santai dan terseyum manis sedangkan yang lain terlihat tegang dan tak nyaman sambil bersilang tangan di dada seolah hendak menutupi tonjolan payudaranya. Wanita kedua itu memandangi seluruh penjuru ruangan ruangan sel Urip dengan delikan sinis. Urip tak menyadari delikan tersebut, ia berdiri memandangi bergantian kedua wanita itu sambil bertolak pinggang .


“kemana aja sih kalian…..harusnya kalian datang dua jam yang lalu…..??!!”


“sorry deh oom….” wanita pertama yang menjawab , ” soalnya tadi banyak wartawan…..bisa heboh kan kalo ada yang tahu…..ya gak mbak….??” disenggolnya teman disebelahnya. Yang disenggol hanya mengangguk pelan sambil tersenyum dipaksakan.


Kali ini Urip bisa melihat jika wanita kedua terlihat tak nyaman, namun Urip justru menyukainya. Ketidaknyamanannya justru menjadi poin plus bagi Urip. Selain itu Urip pun bisa memahami alasan keterlambatan mereka , bagaimanapun juga mereka adalah selebritis meski saat ini sedang bermasalah dengan hukum. Wanita pertama yang terlihat santai adalah Sheila Marcia, artis cantik yang terjerat kasus narkoba sedangkan wanita kedua yang terlihat tegang adalah Marcella Zalianty yang baru saja terjerat kasus penganiayaan seorang designer interior. Berbeda dengan Urip yang cukup nyaman dengan kehidupan ‘penjara’nya , bagi Sheila dan Marcella hidup di penjara sangatlah tidak menyenangkan. Bagi keduanya yang selebritis, mereka terbiasa hidup dengan berbagai kemudahan, glamoritas dan party sana sini. Dan ketika mendadak mereka harus terkurung di satu tempat dalam waktu yang cukup lama, senyaman apapun tempat itu, bukanlah sesuatu yang mudah dihadapi. Itulah sebabnya saat ada tawaran pengurangan masa hukuman dengan syarat harus melayani para pejabat dan orang penting yang berada dalam penjara, Sheila tanpa berpikir lama langsung setuju.


Gaya hidup Sheila kesehariannya memang bebas terlebih lagi ia tinggal jauh dengan orangtua. Baginya memang tak masalah dengan siapa ia ‘tidur’ selama memberinya keuntungan. Sheila memang kerap ‘tidur’ dengan produser untuk mendapatkan peran utama dalam sebuah produksi film. Lain Sheila, lain pula Marcella. Baginya butuh waktu lama sebelum akhirnya memutuskan menerima tawaran itu meski berat hati. Tanpa bermaksud untuk munafik, namun Marcella memang cenderung pilih pilih untuk urusan sex. Selama ini Marcella hanya melakukannya dengan pacar pacarnya saja dengan alasan suka, mau dan tentu saja cinta. Tak pernah sekalipun dirinya ‘menjual diri’ untuk sejumlah uang ataupun peran dalam film. Namun kali ini situasinya lain, Marcella mengkhawatirkan kariernya jika terlalu lama di penjara. Marcella dan Sheila datang memakai pakaian yang secara spesifik telah diisntruksikan Urip sebelumnya. Sheila yang lebih muda , memakai seragam putih abu abu SMA dengan rok tinggi di atas lutut dan baju putihnya terbuka satu kancing. cerpensex.com Tak sampai memperlihatkan buah dada ataupun belahannya memang, namun tetap memberi kesan sexy. Untuk Marcella, Urip menyuruhnya untuk memakai pakaian tennis yang ternyata sangat cocok dengan postur tubuhnya yang tinggi semampai. T-shirt putihnya berpotongan leher rendah memperlihatkan sedikit belahan dadanya. Ukurannya yang begitu ketat , menonjolkan buah dada dan puting Marcella yang memang tak memakai pelapis apapun lagi. Roknya yang lebih pendek dari Sheila, begitu sempurna memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus. Urip tersenyum cabul dan menjijikan , menatap penuh minat kedua artis cantik dihadapannya. Dan Ia memutuskan untuk menikmati Marcella terlebih dahulu.


Sikap Marcella yang agak rikuh membuatnya penasaran sekaligus bergairah. Tangan Urip terulur berniat hendak menyentuh payudara Marcella, namun secara refleks gadis itu menepisnya. Urip tersentak kaget, senyumnya langsung hilang. Marcella memandang Urip dengan pandangan tak senang, wajahnya terlihat bersusah payah menahan emosi. Sesaat situasinya mendadak menjadi sangat kaku.


“mbak….!!!” ,Sheila menyenggol Marcella dengan siku untuk mengingatkan.


Wajah Marcella mengendur meski masih menatap kesal. Sudut bibir Urip membentuk seulas senyum kemenangan. Sekali lagi tangannya terulur untuk menyentuh payudara Marcella. Dan kali ini tak ada perlawanan.


“hehehehe….”, Urip tertawa menyebalkan saat mulai meraba dan meremas payudara Marcella.


Mata Marcella terpejam namun bukan karena ia menikmati sentuhan Urip melainkan karena menahan segala kegalauan yang ia rasakan dan mencoba membesarkan hati menguatkan mental. Urip mendorong tubuh Marcella hingga menyentuh dinding lalu kembali melakukan remasan dengan kedua tangannya sambil pula menciumi dan menjilati leher jenjang gadis itu. Harum tubuh Marcella semakin meningkatkan level birahi Urip.


“uuuhh…..” Marcella mengeluh pendek saat payudaranya diremas terlalu keras.


Batin Marcella kini bergejolak, ia mulai berpikir jika keputusannya menerima tawaran pengurangan masa hukuman dengan mantan jaksa ini adalah sebuah kesalahan.


”angkat tanganmu ke belakang kepala…”perintah Urip.


Dengan enggan Marcella mengangkat tangan seperti orang yang sedang Ditangkap polisi. Tatapan matanya bercampur antara tak suka dan heran. Urip menyingkap perlahan t-shirt Marcella hingga sebatas leher. Dan tentunya sekarang ia lebih leluasa menggerayangi payudara artis cantik mantan bintang lux itu. Urip terlihat sangat menikmati sekali empuk dan kenyalnya bukit kembar yang begitu mulus dan putih bersih tersebut. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Urip merasa puas bermain dengan payudara, kini ia menyuruh Marcella untuk berlutut. Tak perlu banyak kata, Marcella langsung paham apa yang dia harus lakukan. Dengan gontai ia melepas celana pria itu dan mengeluarkan penis yang terkurung di dalamnya. Sejenak Marcella menghembuskan nafas panjang untuk membuang seluruh keraguannya lalu penis itu ia masukan ke dalam mulutnya.


”ooop…aaapp……sabar dulu nona cantik….hehehehe….” Urip mendorong kepala Marcella menjauh, ” jilatin dulu dong…..biar enak gitu…hehehee….”


Cukup sudah ..!!! marcella kini tak lagi menyembunyikan kekesalannya. Ia bangkit sambil menatap Urip dengan marah.


“kenapa ..??? gak mau….??” Urip tetap terlihat tenang dan menantang, ” mungkin kamu lebih suka kalau melayani tahanan di blok timur..heh…!!!”


Tanpa direncanakan, Marcella refleks bergidik ngeri. Blok timur adalah tempat para kriminal sesungguhnya, pembunuh, pemerkosa, drug dealer, dan sejenisnya. Nasib Marcella jelas tak akan ‘seberuntung’ sekarang seandainya ia dimasukkan kesana.


Sadar tak ada pilihan yang lebih baik, Marcella kembali berlutut meraih penis Urip dan menjilatinya dengan setengah hati.


“nahh..hehehe..gitu dong…..kepalanya dong non..ujungnya jilat…yaaa..aahhh…yess…that’s it girl,,,thats it…!!! “Urip terus memberi instruksi yang dijalankan dengan patuh oleh Marcella.


Sambil terus menikmati jilatan Marcella , Urip memberi isyarat pada Sheila agar mendekat. Sheila yang sedari tadi hanya menonton saja, menghampiri dengan genit.


Tanpa banyak basa basi, Urip melepas seluruh kancing baju Sheila, meremas buah dada gadis itu sambil mencium bibirnya. Sheila menyambut ciuman itu dengan sama bernafsunya. Bibir keduanya berpagut ganas, remasan Urip di dada Sheila pun kian gencar. Melihat Urip mulai asyik dengan Sheila, Marcella mengentikan jilatannya dan langsung memasukan penis itu ke dalam mulutnya. Urip membiarkannya kali ini, namun dari gerak matanya, terlihat Urip merasakan sebuah sensasi kenikmatan yang tak biasa.


Berniat ingin segera mengakhiri semua ini, Marcella memberikan kuluman dan kocokan terbaiknya. Kepalanya bergerak maju mundur teratur, sedotan mulutnya yang begitu membuai jiwa dikombinasikan dengan pijatan tangan yang dahsyat. Efek kenikmatan yang luar biasa membuat Urip sejenak melepas ciumannya dengan Sheila untuk sekedar melenguh panjang mengekspresikan rasa nikmatnya. Sheila mengambil jeda tersebut untuk melepas seluruh pakaiannya dan memberi keleluasaan yang lebih lagi pada Urip untuk menggerayangi tiap lekuk indah tubuhnya.


”uuoohh..aahhhh..oom….aahhh…aaaahh…..sssshhaahh…..” Sheila mengerang erotis saat jemari Urip menggelitik vaginanya. Suasana sel tersebut makin ‘panas’ saja tiap menitnya.


Kuluman terbaik Marcella dan erangan erotis Sheila ternyata sangat efektif mengantarkan Urip mencapai puncak kenikmatan lebih cepat. Sejenak Urip melepas Sheila untuk berkonsentrasi pada Marcella. Kepala gadis itu ia dorong agar bergerak lebih cepat lagi. Marcella paham hanya beberapa saat lagi maka Urip akan klimaks, maka ia pun semakin bersemangat menggerakn kepalanya. Semenit kemudian Urip mulai merasakan tekanan dahsyat dari dalam tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa menegang. Rasa dingin merinding turun dari tengkuk Urip dan menjalar ke seluruh tubuhnya.


”aaaarrggghhh…..!!!!”


Urip menahan kuat kepala Marcella saat menyemburkan spermanya. Gadis itu kontan gelagapan apalagi saat cairan itu mulai memenuhi mulutnya. Marcella berusaha mendorong dan memukul mukul tubuh Urip karena ia mulai sulit bernafas. Saat berhasil melepaskan diri dari Urip, Marcella langsung terbatuk batuk mencoba meraih nafas sebanyak mungkin, sisa-sisa sperma menetes keluar dari mulutnya. Ia pun menangis marah sambil memukul lantai, tak mempercayai dirinya mau merendahkan diri seperti ini. Dalam hatinya ia menyalahkan Ananda Mikola dan Moreno yang membuatnya terjebak dalam situasi seperti ini.


“oom..kenapa oom…???” suara Sheila yang terdengar panik sedikit mengejutkan Marcella.


Urip masih berdiri di tempatnya semula, mulutnya masih menganga dan tangannya terangkat mencengkram dada, seolah tersiksa oleh rasa sakit yang luar biasa.


“hhagggh……haaaggghhhh…hheeeakkgg…..”


Nafas Urip terdengar pendek pendek seperti sedang terserang asma. Sheila dan Marcella saling berpandangan sama sama tak menngerti apa yang terjadi. Marcella memberanikan diri mendekat dan menyentuh pundak Urip.


“hahaaaaaaaaggggggghhhkkkkk……..!!!!!!”


Urip mendadak melolong panjang kesakitan dan roboh ke lantai. Secara bersamaan Sheila dan Marcella langsung melompat mundur sambil menatap dengan ketakutan.


Nafas Urip masih terdengar pendek dengan jeda waktu yang semakin panjang, matanya melotot, wajahnya terlihat memerah mengerikan. Tangannya masih mencengkram dada.


Sheila yang semakin ketakutan segera saja menggedor pintu sel dan memanggil penjaga.


Hanya beberapa detik saja, seorang penjaga datang dengan sigap.


“ada apa….ada apa….???”


Saat penjaga itu masuk, ia tak langsung menuju Urip karena perhatiannya teralihkan pada tubuh Sheila yang telanjang dan payudara Marcella yang terlihat. Dan bukannya menolong , ia malah bengong memandangi keindahan yang jarang dilihatnya itu.


“itu….!!!!!” Dengan kesal Marcella menurunkan t -shirtnya lalu mendorong si penjaga ke arah Urip yang masih kelojotan di lantai. Barulah orang itu sadar apa yang terjadi dan segera keluar untuk memanggil dokter.

Beberapa jam kemudian hampir seluruh siaran berita di televisi di dominasi oleh kabar tewasnya mantan jaksa Urip Tri Gunawan di selnya karena serangan jantung. Beritanya semakin menghebohkan karena beberapa wartawan mencium keberadaan Sheila dan Marcella di tempat kejadian. Berita kematian Urip juga diikuti oleh berita kedua tentang jatuhnya pesawat Air Asia tujuan Singapura di Selat Sunda. Seluruh penumpang dan awak pesawat dipastikan tewas. Gagal mesin diduga sebagai penyebab kecelakaan tersebut. berita ini menjadi menarik saat diketahui ternyata Artalyta Suryani adalah salah satu penumpang pesawat tersebut. Namun yang paling mengejutkan ternyata adalah berita ketiga. Tak ada yang tak terkejut melihat berita ketiga, semuanya melongo tak percaya. Beberapa penonton yang lebih cerdas menyadari jika berita ketiga ini bisa memicu kekacauan yang luar biasa. Mereka bahkan khawatir berita ini bisa membuat sebuah de ja vu akan kerusuhan Mei 1998.Cerpen Sex


‘K’ pun menyaksikan siaran berita tersebut dan terlihat agak terpukul karena ini berarti dia kalah langkah. Dengan muram , ia memandang ’7′ dan ’11′ lalu berkata , “it’s a new level of black note…..damn it!!”

Ballroom Hotel Orion -sebuah hotel berbintang di Jakarta – siang itu sudah ramai oleh para tamu undangan yang menghadiri resepsi pernikahan. Bramantyo Hadi, seorang pengusaha muda yang sukses bergerak di bisnis otomotif merayakan pernikahannya dengan Dita Anastasya , seorang mahasisiwi tingkat IV sebuah universitas terkemuka di Jakarta yang juga merupakan teman sekampus Doni. Kedua mempelai terlihat sangat serasi sekali di pelaminan, pria tampan dan gadis cantik dibalut busana pengantin bernuansa putih. Khusus Dita, gaun pengantinnya yang setengah dada berpadu sangat pas sekali dengan kulitnya yang bersih, membuatnya terlihat semakin cerah dan terang. Dita memancarkan aura kecantikan yang membuat banyak pria merasa iri pada keberuntungan bram yang mempersuntingnya. Doni pun dalam hati mengakui jika hari itu Dita terlihat beberapa kali lebih cantik dari biasanya, namun hal tersebut tetap tak membuat Doni membatalkan rencananya. Kehadirannya di pesta itu bukan untuk mengagumi atau sekedar memberi ucapan selamat pada Dita. Doni hadir karena dendam. Dita adalah satu satunya perempuan yang tak bisa ia taklukan. Harta dan ketampanan yang selama ini menjadi senjata andalan Doni ternyata tak mempan terhadap Dita. Dita memang istimewa. Cantik, pintar, mudah bergaul dan aktif berorganisasi yang membuatnya menjadi banyak teman dan populer. Dan meski bergaul dengan banyak orang , Dita sungguh pandai menjaga diri dan kehormatannya. Prinsipnya tegas, no free sex, no drugs, no alcohol.


Dita sangat tahu siapa dan bagaimana Doni. Reputasinya sebagai ‘playboy kampus’ membuat Dita otomatis menjaga jarak. Harta dan ketampanan Doni tak membuatnya menjadi silau. Berbagai cara Doni lakukan untuk mendapatkan Dita, namun gadis itu selalu menolaknya dengan halus. Sangatlah beralasan Doni begitu ngotot mendapatkan Dita. Bahkan hampir semua pria di kampusnya jatuh hati pada Dita, apalagi setelah gadis itu terpilih sebagai ‘putri kampus’ dalam sebuah acara pemilihan yang digelar tiap akhir tahun ajaran.


Namun elemen yang paling membuat Doni tertarik pada sang putri kampus adalah keperawanannya yang ia yakini masih terjaga dengan baik. Doni ingin menjadi orang pertama yang merenggutnya dan menikmatinya. Tapi sekali lagi, Dita tak jatuh oleh segala tipu daya Doni. cerpensex.com Apapun yang Doni tawarkan tak membuat dirinya membuka hati pada pria itu. Bahkan lama kelamaan sikapnya mulai tak ramah lagi. Dita tak segan lagi menunjukkan ketidak sukaannya karena Doni terus mengejarnya. Ia mulai merasa terganggu oleh segala rayuan Doni setiap hari. Dan puncaknya suatu hari di perpustakaan. Dita yang sudah sangat kesal melempar buku yang dibacanya ke arah Doni seraya memakinya sebagai playboy kampung tak tahu malu. Suasana perpustakaan yang tenang membuat insiden sekecil apapun akan menjadi sangat kentara dan otomatis menjadi pusat perhatian. Doni menjadi bahan tertawaan orang orang disana dan seolah belum cukup membuatnya malu, seorang satpam dengan lagaknya yang sok penting mengusir Doni keluar. Rasa malu dan marah menggunung di dada Doni, bibit dendam mulai tumbuh. Sejak saat itu Doni memang tak lagi mendekati Dita, namun ia terus berpikir untuk membalas penghinaan yang dirasakannya saat di perpustakaan itu. Dan sekarang adalah saatnya. ‘black note’ akan membantunya membalaskan dendam. Doni pun tersenyum saat melihat ke arah pelaminan. Tak diragukan lagi , efek ‘black note’ mulai bekerja.

Dita mendadak terlihat gelisah , berkali kali ia merubah posisi duduknya. Sesekali ia menggigit bibir, dahinya berkerut seperti sedang menahan sesuatu.


“kamu kenapa sayang…” tanya Bram dengan suara pelan saat melihat Dita bersikap aneh.


“engg..enggak kok…ini…emmm…..perutku gak enak…..” jawab Dita berbohong.


Bukan perutnya yang bermasalah melainkan seluruh bagian sensitifnya. Buah dada dan vaginanya mendadak terasa ‘gatal’ ingin sgera disentuh. Birahinya mendadak naik begitu cepat. Tanpa bisa dicegah , bayangan indah dan nikmatnya malam pertama memenuhi kepala Dita.dan itu sungguh menyiksanya. Saat Bram melirik cemas, Dita segera memegang perut untuk memberi kesan seolah ia memang sedang sakit perut. Dan dengan gerakan ‘tak sengaja’ jempol Dita menyentuh payudaranya sendiri. Satu sentuhan kecil namun efeknya luar biasa. Sebuah aliran dingin berdesir cepat ke seluruh tubuh Dita. Perasaannya makin kacau diterror birahi yang terus meninggi. Nafasnya mulai tak teratur.


Akhirnya Dita tak tahan lagi, ia meremas sebelah payudaranya sambil memejamkan mata.rasanya begitu nyaman dan nikmat sekali. Bram jelas terkejut melihat sikap Dita , dengan cepat Ditariknya tangan istrinya itu sambil menegurnya dengan suara pelan namun tegas, “Dita….!!!!”


Bram memandangi Dita dengan perasaan aneh , apapun yang dirasakan istrinya saat ini diyakininya pastilah bukan sekedar sakit perut. Bram ingin bertanya lebih lanjut, namun sepasang tamu datang naik ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat. Bram pun hanya menepuk bahu Dita dan berharap istrinya bisa menjaga sikap. Tamu yang naik adalah Anneu, teman kampus Dita yang datang bersama pacarnya yang sekilas mirip pemain sinetron Teuku Wisnu.


“selamat ya Dita honey…..” Anneu menyalami Dita, cipika cipiki lalu memeluknya.


Apa yang dilakukan Anneu sebenarnya hal yang wajar dan biasa antar teman. Namun bagi Dita yang sedang dialnda birahi hebat, rasanya menjadi sangat berbeda. Hampir saja Dita tak mampu menahan hasrat untuk mencium bibir sahabatnya itu, namun untungnya ia masih bisa mengendalikan diri. Alih alih mencium, ia memeluk erat tubuh Anneu sehingga buah dada keduanya saling menekan. Meski terkejut, Anneu tak merasa curiga. Ia mengira jika pelukan erat ini adalah luapan ekspresi kegembiraan. Masalah baru muncul ketika pacar Anneu menyalami Dita. Pria itu sebenarnya hanya berniat bersalaman saja karena ia pun tak terlalu mengenal dekat Dita. Namun justru Dita mendadak memeluknya erat dan diikuti dengan mencium bibirnya. Sentuhan tangan soerang pria tampan akhirnya membuat pertahanan Dita akhirnya jebol juga. Seisi ballroom medadak hening untuk sesaat, bahkan wedding singer pun berhenti bernyanyi padahal lagunya belum selesai. Suara bisik bisik mulai terdengar disana sini yang kemudian semakin ramai bagaikan suara dengungan lebah. Di pelaminan, suasananya lebih menegangkan lagi. Anneu dan bram menatap pasangan masing masing dengan curiga dan marah. Pacar anneu terlihat sangat canggung dan salah tingkah karena ia sendiri tak tahu kenapa Dita menciumnya. Belum sempat ada yang buka suara .tiba tiba Dita berlari meninggalkan pelaminan dan keluar melalui pintu samping. Saking terkejut dan terpananya, tak ada seorangpun yang berusaha mencegah Dita. Barulah beberapa detik setelah Dita menghilang di balik pintu , mereka sadar seharusnya mereka mengejar Dita. Dipimpin oleh Bram yang berlari paling depan, beberapa orang segera berusaha mengejar Dita. namun gadis itu sudah tak terlihat lagi.

Dita tak tahu atau merencanakan untuk lari ke basement tempat parkir, namun hati dan langkah kakinya telah membawanya kesana. Dan ledakan birahi itupun kembali terasa bahkan lebih parah. Dita duduk terpuruk bersandar pada sebuah mobil. Tangannya menyusup masuk dari bagian atas gaun pengantinnya untuk meremas langsung buah dadanya sendiri. Satu tangan lainnya tanpa ragu menyingkap bagian bawah gaunnya, menyelipkan tangan ke balik celana dalamnya dan mulai menggelitik vaginanya.


“ooohhmmmmhh……” Dita mendesah nyaman. Matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka.


Dita bahkan sudah tak peduli lagi jika ini adalah tempat umum dimana seseorang bisa saja muncul dan memergokinya. Justru dalam pikiran Dita saat ini, ia berharap ada yang memergokinya , menyeretnya ke kamar mandi dan memperkosanya disana. Wajahnya terlihat meringis seakan hendak menangis meski sebenarnya ia sedang meresapi kenikmatan yang sedang dirasakannya saat ini. Tangannya terus sibuk menggelitiki vagina dan meremas buah dadanya sendiri. Namun keasyikan Dita sontak terganggu saat suara suara bernada panik terdengar memanggil namanya. Dita mengintip dari balik mobil dan melihat Bram berikut beberapa anggota keluarga lain sedang mencarinya. Merasa birahinya masih belum terpuaskan sekaligus pula menghindari banyak pertanyaan, Dita enggan untuk segera kembali atau cepat ditemukan oleh keluarganya. Dengan menenteng alas kakinya agar tak bersuara, Dita berjalan merunduk diantara mobil mobil, menghindari para pencarinya. Meski bergerak dengan hati hati, namun Dita bergerak tanpa tujuan yang pasti selain terus kucing kucingan dengan keluarganya di antara deretan mobil yang diparkir. Sampai akhirnya Dita pun terkepung, kemanapun ia bergerak pasti akan ada yang melihatnya.Cerpen Sex


Dengan panik Dita memandang sekeliling mencari jalan keluar lain namun tak ada. Hampir saja Dita memutuskan untuk menyerah saja ketika ia menyadari jika ia saat ini sedang bersembunyi di balik sebuah mobil box yang berukuran agak besar. Dan yang terpenting pintu box mobil itu tak tertutup rapat. Tanpa banyak berpikir juga tanpa suara, Dita membuka pintu box dan melompat masuk kedalamnya. Jantungnya berdebar keras saat mendengar suara suara langkah yang mencarinya terdengar di sekitar mobil box tersebut. Tangan Dita kuat memegang handle pintu seolah hendak menahan sekuat tenaga jika seandainya ada yang berusaha membukanya. Namun ternyata tak ada seorangpun yang terpikir untuk memeriksa mobil box tersebut. Mereka bahkan tak menyadari jika pintu box tersebut tak tertutup rapat. Mereka hanya berkeliling di sekitar mobil lalu bergumam kecewa saat tak menemukan apa apa. Langkah langkah kaki terdengar menjauh membuat Dita merasa sedikit lega.


“uhuk..uhuk…ehemm…!!”


Suara batuk di belakangnya menyadarkan Dita jika ia tak sendiri di dalam mobil box tersebut. Seorang pria lusuh berusia lewat 40-an terduduk melongo memandanginya. Nyaris tak ada yang ingat nama asli pria itu karena selama bertahun tahun orang memanggilnya Petot. Hari ini, Petot bersama Entang ( supir ) dan Udin ( kenek ) baru saja mengantarkan barang pesanan hotel. Dan sementara Entang dan Udin naik ke lantai atas untuk mengurusi uang jasa mereka. Petot lebih memilih beristirahat sejenak di mobil.


Ia sedang tidur tidur ayam di atas tumpukan kardus gepeng saat merasakan mobilnya berguncang. Semula ia mengira kawan kawannya telah kembali namun ternyata yang muncul adalah mahluk cantik berbusana pengantin yang langsung membuatnya terpana. Reaksi yang langsung terlihat jelas adalah celana pendeknya yang mendadak menggembung, apalagi Petot tak menggunakan celana dalam. Petot dan Dita sesaat hanya saling memandang sama sama terkejut.


Dita lantas tersenyum sambil merangkak mendekati Petot sambil menaruh telunjuk di mulutnya , ” ssssstttt…..!!!”


Petot yang masih terbengong bengong hanya mengangguk patuh bagai boneka saat Dita menyuruhnya untuk diam. Dan Petot pun semakin melongo saat penisnya dielus elus oleh Dita.


“sssshhh…..!!!” sekali lagi Dita memberi isyarat Petot untuk diam, kali ini dengan sedikit lebih mendesah.


“he eh..he eh…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Petot. Sekilas ia malah mirip orang yang cacat mental.


Dan jangan pernah membayangkan seperti apa ekspresi Petot saat celananya diturunkan oleh Dita untuk kemudian penisnya tanpa ragu dikulum gadis itu. Petot memang ditakdirkan berwajah tak menarik ( mungkin waktu Tuhan bagi bagi wajah, Petot tak hadir ). Sulit bagi Petot untuk mendekati wanita, bahkan perempuan nakal sekalipun enggan melayaninya. Itu pula sebabnya Petot belum menikah hingga sekarang.


Tapi secara tak terduga, saat ini ada seorang pengantin yang sangat cantik bersedia melayaninya dengan suka rela, Petot pun ( mungkin ) rela mati untuk menikmatinya. Sungguh mengherankan, Dita yang sebelumnya tak pernah melakukan hubungan seksual dengan siapapun, mendadak menjadi sangat ahli mengoral penis layaknya seorang professional. Itulah salah satu efek ‘black note’. Seorang introvert sekalipun bisa berubah menjadi binal. Petot bergidik girang saat menikmati sapuan nakal lidah Dita di seputaran penisnya, apalagi dikombinasikan dengan kocokan mulut yang jarang bisa dinikmatinya.Untuk menambah panas suasana, Dita bahkan sengaja mengerang dan menggumam bagaikan bintang film porno.


Dengan gemetar dan takut takut, Petot menggerakan tangannya untuk menyentuh buah dada Dita yang melekuk indah di balik gaun pengantin.


“hooohh..ooohhh…..”


Tak banyak yang bisa Petot ucapkan saking senangnya saat ia berhasil menyentuh payudara Dita. Tangannya bermain main nakal disana mencoba meniru pada apa yang pernah ia lihat di film bokep. Saat tangan Petot berusaha menelusup masuk dari atas, tiba tiba saja Dita menepisnya dengan keras. Dita menghentikan oral servicenya lalu menggeleng gelengkan kepala.


“eehh..emmm…anu..emmm..ahh..ehh….” Petot bergumam tak jelas, salah tingkah dan terkejut. Tangannya bergerak gerak tanpa arti seperti hendak menjelaskan sesuatu.


Petot mengira Dita pastilah marah karena wajah gadis itu terlihat datar. Namun tentu saja Dita tak marah, ia hanya menggoda Petot saja. Sambil tersenyum, Dita melonggarkan bagian belakang gaunnya dan lalu menurunkannya memperlihatkan dengan suka rela keindahan tonjolan buah dadanya. Tak sempat bagi Petot untuk terkejut sekalipun, Dita telah menarik kepala Petot ke arah buah dadanya. Sempat terdiam sejenak, namun segera dengan rakusnya menyeruput buah dada nan mulus tersebut. Begitu ganas, begitu rakus, hingga suara liurnya pun terdengar jelas. Agar posisinya lebih nyaman, Petot membaringkan Dita di lantai beralaskan kardus gepeng. Lalu dengan lebih ganas dari sebelumnya, Petot meremas dan mengulum kedua bukit mulus Dita bergantian.


“anjing lu tot..!!! ngapain luh….??!!!!”


Entang dan Udin rupanya telah kembali setelah menerima pembayaran atas barang yang mereka kirim. Saat menuju tempat parkir basement, mereka mendengar kehebohan tentang pengantin wanita yang mendadak lari dan menghilang, mereka juga sempat bertemu dengan orang orang yang sedang mencarinya. Tentu saja mereka terkejut saat menemukan pengantin yang hilang itu berada di dalam mobil box mereka dan sedang digumuli oleh Petot. Situs Togel Online Terpercaya


Mereka awalnya mengira Petot ( yang putus asa karena tak punya pacar ) telah menyeret dan membawa pengantin itu ke dalam mobil lalu memperkosanya. Namun dalam sekejap pula, Entang dan Udin tercengang. bukan hanya terlihat pasrah, tapi pengantin itu menatapnya dengan pandangan menggoda. Bibirnya membuka sedemikian rupa memberi kesan sexy dan erotis. Dengan gerakan jari, Dita memanggil Entang dan Udin untuk mendekat. Dua pria itu tak langsung bergerak, mereka justru saling berpandangan. Setan dan malaikat sedang bergumul di hati masing masing. Namun kala melihat Petot yang buruk rupa begitu asyik menikmati buah dada gadis itu yang juga terlihat pasrah, maka setan lah yang memenangkan pertarungan batin tersebut.


“din…nyetir….” kata Entang menyerahkan kunci mobil sambil matanya terus menatap Dita penuh minat.


“tapi….”Udin mencoba protes


“udah nyetir sana ….!!!”


“tapi…”


“eehh….mau uang hasil tadi gak dibagi..???”


“iya…sok lah…gak dibayar juga gak apa apa…..” jelas sekali Udin pun sama bernafsunya untuk meniduri Dita. Antara uang dan Dita , Udin memilih Dita.


“eehh..siah belegug…!!!! Kaditu nyetir …!!!! Cabok geura ku aing…” Entang mendorong tubuh Udin sambil menendang pelan pantatnya.


Sambil bergumam kesal, Udin akhirnya pergi ke depan. Kekesalannya ia lampiaskan dengan membanting pintu sekeras mungkin. Udin pun tetap mengomel sendirian kala menyalakan mesin dan membawa mobil box tersebut meninggalkan hotel. Entang dengan semangat melompat masuk ke dalam box dan menutup pintunya rapat. Sebuah tingkap kecil di atap ia buka untuk sirkulasi udara.


“neng..ikutan yah…boleh….??” Tanya Entang sambil meringis cabul.


Saat Entang mendekat, Dita mendorong tubuh Petot menjauh. Tanpa bicara apa apa selain senyuman menggoda, Dita mengatkan kedua tangannya, memberi isyarat pada Entang dan Petot untuk tak mendekatinya dulu.


Dibumbui dengan kerlingan nakal, senyuman menggoda dan gerakan erotis, Dita melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya tanpa kecuali. Ia juga melepas berbagai hiasan kepalanya lalu menggerai rambutnya. Kemudian masih dengan gerakan tangan, Dita menyuruh kedua pria itu untuk melepas juga pakaian masing masing. Bagai sedang berlomba, Entang dan Petot saling adu cepat melepas pakaian. Tentu saja Petot yang hanya memakai kaus lusuh dan celana pendek tanpa dalaman, selesai lebih dulu dibanding Entang yang berpakaian lebih rapi. Dita mendekati Petot, diciumnya sejenak bibir pria itu. Lalu ciuman Dita beralih ke leher. Disana ia melakukan jilatan jilatan pembangkit nafsu, diawali dari leher hingga menuju puting Petot. Gerakan memutar lidah Dita yang menggelitik puting Petot, sungguh sulit dicari bandingan nikmatnya. Dita berhenti sejenak saat Entang mendekat. Disambutnya pria itu dengan senyuman termanisnya. Entang mendekatkan wajah hendak mencium bibir Dita, namun ia justru diarahkan menuju payudara. Dita pun membawa kepala Petot menuju buah dadanya.Cerpen Sex


Dua pria itu tentu saja dengan senang hati menerima ‘tawaran’ tersebut. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk mereka tenggelam dalam keasyikan menikmati fresh-nya buah dada Dita. Kuluman, jilatan, sedotan, gigitan, apapun yang bisa dilakukan mulut mereka lakukan. Dan mulut mereka pun semakin ganas saat Dita mengocok penis mereka masing masing. Decapan, erangan, rintihan dan geliatan erotis semakin panas mengisi tiap sudut dari mobil box tersebut. Sementara masih dengan mengomel sendirian, Udin membawa mobil itu melintasi jalan jalan ramai ibukota tanpa ada yang tahu dan menyadari jika di dalam mobil box tersebut sedang berlangsung pergulatan birahi yang makin membara saja.


Di dalam, posisi mereka sudah berubah. Entang kini sedang dalam posisi bersiap siap melakukan eksekusi. Dengan duduk bersandar pada dinding box, Petot merangkul Dita dari belakang, tangannya tak sedetik pun lepas dari payudara gadis itu. Tanpa diperintah, Dita membuka kakinya lebar lebar memperlihatkan vagiannya yang belum sekalipun pernah tersentuh oleh laki laki. Entang yang punya sedikit ‘pengalaman’ rupanya bisa menduga juga jika Dita masih virgin. Karena itu ia tak terburu buru dan cenderung berhati hati. Penisnya yang menegang tak sabar, ia sodorkan ke mulut Dita dan membiarkan gadis itu mengocoknya hingga basah. Setelah dirasa cukup basah, Entang menarik penisnya dan memposisikan tepat di depan vagina Dita. Dengan tegang Dita menarik nafas, menantikan penis pertama yang akan mengoyak kesuciannya. Perlahan dan penuh kelembutan (sepertinya Entang memang sudah berpengalaman) penis itu mencoba menyeruak masuk ke dalam lubang sempit tersebut. Dita memejamkan mata, menunggu sebuah rasa yang selama ini belum pernah dirasakannya. Dan Dita pun mencengkram kuat paha Petot seraya mengerang panjang saat momen itu tiba. Satu dorongan kuat membenamkan penis Entang kian dalam sekaligus juga merobek keperawanan Dita. Air mata Dita mengalir bersamaan dengan darah kesuciannya. Matanya masih terpejam mencoba menkondisikan diri dengan keadaanya sekarang. Entang pun mengerti itu, meski birahinya semakin naik namun ia tak mau terlalu memaksakan Dita. Penisnya ia biarkan dulu terbenam di vagina gadis itu tanpa seinchi pun ia gerakkan. Selain menunggu Dita terbiasa, Entang pun juga menikmatinya. Petot pun ‘berusaha’ untuk membuat Dita rileks dengan menciumi leher dan belakang telinga gadis itu sambil tentu saja meremas payudaranya. Dita memang terlihat mulai rileks, ia membuka matanya memberi isyarat pada Entang untuk melanjutkan penetrasinya meskipun senyumnya masih agak dipaksakan.


“siap ya neng….” Kata Entang.


Entang menghentakan tubuhnya sekali lalu diam sejenak , Dita meresponnya dengan helaan nafas. Ia menghentak lagi satu kali, lalu diam lagi. Dita kembali menghela nafas. Begitu seterusnya.


Dita menarik nafas terhenyak setiap tubuhnya tersentak, diikuti oleh rintihan pendek. Kadang pula mulut Dita terbuka tanpa suara selain desah sengau layaknya penderita asma. Vaginanya terasa panas, perih sekaligus juga nikmat. Setelah beberapa kali melakukan hentakan tunggal, gerakan Entang perlahan tapi pasti mulai teratur dan konstan. Dita mulai merasakan perih yang lebih di vaginanya, secara naluriah ia mendorong tubuh Entang untuk menjauh meski tanpa tenaga. Petot dengan sigap mengambil tangan Dita dan menahannya memberi keleluasaan Entang untuk menggenjot gadis itu. Payudara Dita yang padat, kencang dan kenyal, berguncang begitu indahnya mengikuti irama hentakan tubuh Entang. Jerit dan rintihan seperti orang yang akan menangis terus meluncur dari bibir Dita, bersahutan dengan errangan nikmat dari Entang. Wajah gadis itu pun kini sudah basah oleh keringat dan air mata. Entah berapa lama Entang melakukan genjotan sampai akhirnya Dita merasakan pengalaman pertamanya. Dita merasakan seluruh tubuhnya menegang dan mengejang lalu dengan drastis melemas. Darahnya terasa berdesir lebih cepat , tubuhnya terasa dingin dan merinding. Dita pun menjerit panjang di awal lalu berubah terputus putus saat puncak kenikmatan itu dirasakannya. Kakinya untuk beberapa saat menendang nendang liar , tangannya menekan kuat lantai mobil box. Tubuh Dita pun berguncang lemah tak berdaya saat Entang yang masih mencari klimaks menggenjotnya lebih kencang. Dan akhirnya Entang pun mengerang panjang sambil meremas buah dada Dita. Spermanya ia biarkan memenuhi vagiana gadis itu.


“fiiuiihh…gilee,….adem beneeerrrr……” ucap Entang saat mencabut penisnya sambil duduk kelelahan bersandar pada dinding box.


Dita terbaring lemas di lantai, nafasnya masih terengah engah seperti pelari marathon yang baru tiba di finish. Pikirannya sedang berusaha ‘menerjemahkan’ pengalaman pertamanya tadi.


Sakitkah atau nikmat……haruskah merasa senang atau sedih……benarkah yang dilakukannya atau salah……..


Benar atau salah…..???? apa yang terjadi…..???? kenapa terjadi…..??? siapa mereka….????


Sedikit demi sedikit akal sehat Dita mulai kembali. memorinya mulai melacak mundur pada apa yang terjadi sebelumnya. Efek ‘black note’ perlahan mulai memudar. Dan pada saat Petot sudah menancapkan penisnya ke vagina Dita, saat itu pula kesadaran Dita benar benar kembali. sontak Dita menjerit histeris . kali ini ia berontak, meronta, menjerit dan meraung raung minta tolong.


“tolong…tolong..tol,…emmppphh…..”


Jeritan Dita tertahan oleh sumpalan kemeja dari Entang dan dengan sigap pula Entang mengunci tangan Dita hingga tak bisa bergerak. Tak mau kehilangan momen , Petot menggenjot tubuh Dita dengan kasar dan terburu buru. Entah karena sadar perlawanannya sia sia atau memang karena tenaganya sudah habis, Dita tak lagi meronta dan menjadi pasrah. Tubuhnya lemah terguncang selain karena hentakan Petot, juga karena isakan tangisnya. Melihat Dita sudah kembali pasrah, Entang melepas kunciannya, bekapan di mulut Dita pun ia singkirkan. Petotpun terlihat lebih santai melakukan genjotan, ia sempat menyelingi dengan remasan di payudara, bahkan sejenak mengulumnya dan menggigiti lembut putting Dita.


Dita menutup wajah dengan kedua tangannya, sedu sedan tangisannya semakin keras diselingi rintihan lirih saat vaginanya terasa perih atau saat gigitan Petot di putingnya terasa menyengat. Seharusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Seharusnya hari ini ia menikmati indahnya malam pengantin bersama lelaki pilihannya. Seharusnya malam ini ia mempersembahkan dan melepas kesuciannya yang selama ini terjaga dengan baik pada sang suami tercinta. Tapi entah kenapa hari ini berakhir tragis. Kesuciannya harus terenggut oleh orang yang tak ia kenal, di tempat yang tak seharusnya pula. Dita tak mengerti kenapa bisa begini. Ia ingat apa yang terjadi sebelumnya, kehebohan yang dia buat saat mencium pacar sahabatnya sendiri di depan semua orang, di hari pernikahannya. Tapi ia tak tahu kenapa ia melakukannya. Dan mobil box itupun terus meluncur ke luar Jakarta, semakin menjauhkannya dari impian yang seharusnya dinikmati oleh pengantin baru.

Cerita Sex Black Note 3

Subscribe Our Newsletter